Adalah sebuah studi yang dilakukan Copenhagen University terhadap 46.000 orang berusia 40-65 tahun yang mengalami bullying, utamanya di tempat kerja.
Peneliti menemukan bahwa 46 persen pekerja yang mendapatkan kekerasan verbal maupun fisik dari atasan atau rekan kerja berpeluang tinggi untuk mengidap penyakit diabetes tipe 2.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti menambahkan, angka ini diperoleh setelah dilakukan penyesuaian terhadap faktor lain yang mempengaruhi risiko diabetes partisipan seperti konsumsi alkohol, tingkat pendidikan dan ada tidaknya riwayat gangguan mental.
Baca juga: Tak Disadari, Bullying Juga Bisa Terjadi di Tempat Kerja
"Di-bully dianggap sebagai stressor sosial yang buruk, yang mampu mengaktifkan respons stres dalam tubuh lalu memicu berbagai proses biologis yang kemudian berkontribusi terhadap risiko diabetes," tandas peneliti, Dr Naja Rod seperti dilaporkan Science Daily.
Ketika hormon stres dihasilkan sebagai bentuk respons tubuh terhadap bullying, mereka akan memicu berbagai proses biologis yang kelak dapat memunculkan risiko diabetes.
Kedua, kondisi ini juga bisa mengubah hormon yang berperan mengatur selera makan. Akibatnya adalah si korban akan terpacu untuk melakukan 'comfort eating' yaitu mencari ketenangan dari konsumsi makanan.
"Lama-kelamaan ini akan berkontribusi terhadap penambahan berat badan, dan juga munculnya risiko diabetes tipe 2," tambah Rod.
Baca juga: Trauma Karena Bullying, Risikonya Depresi Hingga Bunuh Diri (lll/up)











































