Saat Para Seleb Dunia Bersuara tentang Kekerasan Seksual

Saat Para Seleb Dunia Bersuara tentang Kekerasan Seksual

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Selasa, 09 Jan 2018 08:05 WIB
Saat Para Seleb Dunia Bersuara tentang Kekerasan Seksual
Beberapa selebriti dunia juga bersuara tentang kekerasan seksual. Foto: REUTERS
Jakarta - Kampanye #MeToo viral di sosial media. Bagi yang belum tahu, hash tag 'MeToo' ini merupakan sebuah aksi yang ditunjukan untuk membagikan pengalaman untuk mengenalkan perilaku misoginis (kebencian atau tidak suka terhadap wanita atau anak perempuan, salah satunya dengan kekerasan seksual) yang tersebar luas.

Sebenarnya kampanye ini sudah sering digaungkan oleh aktivis Tarana Burke, namun makin terkenal semenjak aktris Alyssa Milano menyuarakan mengenai hal tersebut kembali di akun Twitter miliknya.

Sontak, cuitan Milano membuat teman-teman sesama artis ikut terpanggil untuk menyuarakan pengalaman yang sama. Salah satunya adalah penyanyi lagu 'Bad Romance' Lady Gaga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Foto: Twitter/Alyssa Milano


Baca juga: Merawat Anak yang Jadi Korban Kekerasan Seksual

Melalui akun Twitternya, Lady Gaga hanya menuliskan '#MeToo' dan ternyata menuai balasan komentar dari beberapa pengikutnya yang ternyata pernah merasakannya juga.

"There's no women who never have a sexual abuse in her life. #MeToo so many f*ck*ng times. #Womanwhoroar" tulis pemilik akun @reebu*n*.

Selain Lady Gaga, artis lainnya seperti misal Anna Paquin, Debra Messing, Ellen DeGeneres, dan juga Jennifer Lawrence juga memberanikan diri untuk mengikuti kampanye #MeToo.

Kekerasan seksual adalah hal serius. Dijelaskan oleh dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ(K), dari RSJ dr Soeharto Heerdjan beberapa waktu lalu, ketika anak mengalami kekerasan seksual maka akan ada perubahan dirinya yang bisa terlihat. Ciri yang muncul antara lain menjadi lebih pemurung atau stres, depresi, ketakutan.

Tak jarang, korban yang mengalami kekerasan seksual tertutup terhadap kondisinya, sehingga dr Suzy menyebutkan orang tua harus lebih peka terhadap kondisi yang nampak. Selain itu, ia menyarankan agar anak terlebih dahulu dirawat di rumah sakit jiwa.

"Sebaiknya dimasukkan ke rumah sakit dulu. Kita lakukan intervensi untuk mengurangi trauma dan memperbaiki mood-nya dengan psikoterapi, alat-alat neuroskiatri, dan farmasi obat-obatan," kata dr Suzy.

Baca juga: Jangan Dijauhi, Anak Korban Kekerasan Seksual Perlu Perlindungan


(ask/up)

Berita Terkait