Selasa, 16 Jan 2018 10:40 WIB

Kemungkinan Trauma Pasca Selasar BEI yang Ambruk, Ini Kata Psikolog

Suherni Sulaeman - detikHealth
Kemungkinan trauma pasca selasar BEI yang ambruk/Foto: Dok. Arie - pembaca detikcom Kemungkinan trauma pasca selasar BEI yang ambruk/Foto: Dok. Arie - pembaca detikcom
Jakarta - Selasar Tower II Bursa Efek Indonesia (BEI) Senayan, Jakarta Selatan ambruk. Akibat peristiwa itu puluhan mahasiswa yang ada di atas selasar jatuh dan orang yang berada di bawahnya pun tertimpa puing.

Diketahui sebanyak 75 orang mengalami luka-luka dan rata-rata mengalami patah tulang. Kebanyakan korban luka merupakan mahasiswa Universitas Bina Darma, Palembang, yang tengah melakukan study tour. Terkait insiden tersebut, adakah kemungkinan membuat korban juga menjadi trauma?

"Kalau ditanya apakah ada kemungkinan trauma, ya bisa saja. Jangankan yang menjadi korban, kita yang menonton atau saksi yang menyaksikan peristiwa tersebut saja dalam pikirannya bisa timbul pikiran-pikiran yang negatif," ujar psikolog dari RS Permata Depok, Lenny Utama Afriyenti, MPsi, Psikolog saat dihubungi detikHealth.

Menurut Lenny, demikian ia disapa, jika dilihat dari gangguan psikologis, trauma tersebut bisa menyebabkan phobia ataupun post traumatic stress disorder (PTSD). Phobia adalah ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu. Biasanya terjadi pada pikiran dan ketakutan yang irasional yang secara sadar menimbulkan upaya menghindari objek, aktivitas atau situasi yang ditakuti. Seperti takut cicak, takut darah, dan sebagainya.

Baca juga: Selasar Atap Tower II Bursa Efek Indonesia Roboh, Ada Korban

Sementara PTSD, adalah stres pasca trauma akibat sebuah kejadian. Jadi korban pernah mengalami, melihat, dan merasakan kejadian yang mengerikan atau membahayakan dirinya. Seseorang yang mengalami PTSD ialah mereka yang berada di tempat kejadian, entah sebagai korban ataupun saksi hidup.

"Pemicu munculnya trauma itu beragam, bisa karena menjadi korban sebuah kejadian atau menjadi saksi sebuah kejadian atau karena pengalaman ditakut-takuti oleh lingkungan," pungkas Lenny.

"Bisa orang tua, sahabat atau siapapun yang menceritakan pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan. Kemudian diterima oleh alam bawah sadar seseorang dan dia meyakininya, jadi ada semacam perasaan dan pikiran was-was," pungkasnya lagi.

Baca juga: Pentingnya Konselor dalam Mengatasi Trauma (hrn/up)
News Feed