Kabar ini cukup mengejutkan mengingat kondisi Advent sempat dikabarkan membaik dan dipindah ke ruang perawatan.
Terkait gagal ginjal dan peluangnya menyebabkan kematian, berikut fakta-faktanya seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Sabtu (10/2/2018).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Dapat disebabkan penyakit lain
|
Foto: Thinkstock
|
Pertama, tingginya gula darah membuat ginjal bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihannya. Kedua, diabetes yang tidak tertangani dengan baik akan merusak langsung pembuluh darah di ginjal. Akibatnya pemburuh darah tidak elastis sehingga proses cuci darah alami di ginjal tidak bisa berfungsi dengan baik.
2. Menjalani cuci darah
|
Foto: dok. Washington University
|
dr Akbar juga menjelaskan, cuci darah atau hemodialisis harus dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal dan mencegah pasien keracunan. "Cuci darah itu seperti obat. Jadi seseorang dengan gagal ginjal, ibaratnya seperti knalpot yang mesinnya rusak, bahan berbahaya nggak bisa keluar. Karena itu mengeluarkannya dengan cuci darah," ujarnya.
Rata-rata prosedur cuci darah menghabiskan waktu 5-6 jam setiap harinya. Proses cuci darah dilakukan tergantung keparahan kondisi ginjal, bisa 2 kali seminggu, 1 kali seminggu, ataupun 2 kali dalam sebulan.
3. Sudah cuci darah tetapi meninggal
|
Foto: thinkstock
|
Di sisi lain, banyak orang yang tidak menyadari dirinya menderita gagal ginjal karena kondisi ini biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala umum, sehingga ketika menjalani cuci darah, ada kemungkinan kondisi gagal ginjal pasien terlanjur memburuk.
"Kebanyakan pasien sudah datang pada stadium lanjut dan menunjukkan gejala seperti muntah-muntah, sesak napas karena kelebihan cairan di paru-paru, mual, pucat, bengkak-bengkak," jelas dr. Dharmeizar dr. Dharmeizar, SpPD-KGH dari Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM.
4. Kematian pasien gagal ginjal biasanya karena jantung
|
Foto: Thinkstock
|
"Ginjal sebenarnya tidak menyebabkan kematian, yang membuat orang meninggal karena jantungnya berhenti. Kalau ginjalnya mati kan bisa didialisis," ungkap Prof Suhardjono.
Ini karena ketika seseorang mengalami kelainan ginjal maka juga akan terjadi kelainan lain seperti anemia, peradangan kronik, toksin uremik, hiperkalemia (kalium berlebih dalam darah) yang akhirnya menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan folat sehingga lama-lama menyebabkan kerusakan di jantung.
Halaman 2 dari 5











































