Advent Bangun Meninggal, Ini Fakta Gagal Ginjal yang Diidapnya

Advent Bangun Meninggal, Ini Fakta Gagal Ginjal yang Diidapnya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Sabtu, 10 Feb 2018 11:20 WIB
Advent Bangun Meninggal, Ini Fakta Gagal Ginjal yang Diidapnya
Foto: Advent Bangun (Heri/detikHOT)
Jakarta - Setelah berjibaku melawan gagal ginjal yang diidapnya, aktor laga kawakan Advent Bangun menghembuskan nafas terakhirnya hari ini.

Kabar ini cukup mengejutkan mengingat kondisi Advent sempat dikabarkan membaik dan dipindah ke ruang perawatan.

Terkait gagal ginjal dan peluangnya menyebabkan kematian, berikut fakta-faktanya seperti dirangkum detikHealth dari berbagai sumber, Sabtu (10/2/2018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Sekilas Soal Gagal Ginjal yang Menyerang Aktor Advent Bangun

1. Dapat disebabkan penyakit lain

Foto: Thinkstock
Advent dikabarkan mengalami gagal ginjal setelah sebelumnya mengidap diabetes. dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dari RS Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan pernah menjelaskan bahwa pemicu gagal ginjal beragam. Salah satunya diabetes.

Pertama, tingginya gula darah membuat ginjal bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihannya. Kedua, diabetes yang tidak tertangani dengan baik akan merusak langsung pembuluh darah di ginjal. Akibatnya pemburuh darah tidak elastis sehingga proses cuci darah alami di ginjal tidak bisa berfungsi dengan baik.

2. Menjalani cuci darah

Foto: dok. Washington University
Aktor laga yang meninggal di usia 65 tahun itu dilaporkan sudah menjalani cuci darah sejak bulan April 2017. Menurut sang istri, Lois, Advent menjalani cuci darah seminggu dua kali.

dr Akbar juga menjelaskan, cuci darah atau hemodialisis harus dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal dan mencegah pasien keracunan. "Cuci darah itu seperti obat. Jadi seseorang dengan gagal ginjal, ibaratnya seperti knalpot yang mesinnya rusak, bahan berbahaya nggak bisa keluar. Karena itu mengeluarkannya dengan cuci darah," ujarnya.

Rata-rata prosedur cuci darah menghabiskan waktu 5-6 jam setiap harinya. Proses cuci darah dilakukan tergantung keparahan kondisi ginjal, bisa 2 kali seminggu, 1 kali seminggu, ataupun 2 kali dalam sebulan.

3. Sudah cuci darah tetapi meninggal

Foto: thinkstock
Dikutip dari Mayo Clinic, penderita gagal ginjal mengalami penurunan fungsi ginjal yang lama-kelamaan akan menyebabkan kematian. Namun risiko kematiannya bergantung pada penyebab kerusakan ginjalnya.

Di sisi lain, banyak orang yang tidak menyadari dirinya menderita gagal ginjal karena kondisi ini biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala umum, sehingga ketika menjalani cuci darah, ada kemungkinan kondisi gagal ginjal pasien terlanjur memburuk.

"Kebanyakan pasien sudah datang pada stadium lanjut dan menunjukkan gejala seperti muntah-muntah, sesak napas karena kelebihan cairan di paru-paru, mual, pucat, bengkak-bengkak," jelas dr. Dharmeizar dr. Dharmeizar, SpPD-KGH dari Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM.

4. Kematian pasien gagal ginjal biasanya karena jantung

Foto: Thinkstock
Menurut Prof Dr dr Suhardjono, SpPD-KGH, KGer, pasien gagal ginjal atau penyakit ginjal kronis tahap awal berisiko meninggal 5-10 kali lipat lebih tinggi karena kejadian jantung dibanding pasian penyakit jantung terminal yang harus menjalani cuci darah.

"Ginjal sebenarnya tidak menyebabkan kematian, yang membuat orang meninggal karena jantungnya berhenti. Kalau ginjalnya mati kan bisa didialisis," ungkap Prof Suhardjono.

Ini karena ketika seseorang mengalami kelainan ginjal maka juga akan terjadi kelainan lain seperti anemia, peradangan kronik, toksin uremik, hiperkalemia (kalium berlebih dalam darah) yang akhirnya menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan folat sehingga lama-lama menyebabkan kerusakan di jantung.

Halaman 2 dari 5
Advent dikabarkan mengalami gagal ginjal setelah sebelumnya mengidap diabetes. dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dari RS Mayapada Lebak Bulus Jakarta Selatan pernah menjelaskan bahwa pemicu gagal ginjal beragam. Salah satunya diabetes.

Pertama, tingginya gula darah membuat ginjal bekerja ekstra keras untuk membuang kelebihannya. Kedua, diabetes yang tidak tertangani dengan baik akan merusak langsung pembuluh darah di ginjal. Akibatnya pemburuh darah tidak elastis sehingga proses cuci darah alami di ginjal tidak bisa berfungsi dengan baik.

Aktor laga yang meninggal di usia 65 tahun itu dilaporkan sudah menjalani cuci darah sejak bulan April 2017. Menurut sang istri, Lois, Advent menjalani cuci darah seminggu dua kali.

dr Akbar juga menjelaskan, cuci darah atau hemodialisis harus dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal dan mencegah pasien keracunan. "Cuci darah itu seperti obat. Jadi seseorang dengan gagal ginjal, ibaratnya seperti knalpot yang mesinnya rusak, bahan berbahaya nggak bisa keluar. Karena itu mengeluarkannya dengan cuci darah," ujarnya.

Rata-rata prosedur cuci darah menghabiskan waktu 5-6 jam setiap harinya. Proses cuci darah dilakukan tergantung keparahan kondisi ginjal, bisa 2 kali seminggu, 1 kali seminggu, ataupun 2 kali dalam sebulan.

Dikutip dari Mayo Clinic, penderita gagal ginjal mengalami penurunan fungsi ginjal yang lama-kelamaan akan menyebabkan kematian. Namun risiko kematiannya bergantung pada penyebab kerusakan ginjalnya.

Di sisi lain, banyak orang yang tidak menyadari dirinya menderita gagal ginjal karena kondisi ini biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala umum, sehingga ketika menjalani cuci darah, ada kemungkinan kondisi gagal ginjal pasien terlanjur memburuk.

"Kebanyakan pasien sudah datang pada stadium lanjut dan menunjukkan gejala seperti muntah-muntah, sesak napas karena kelebihan cairan di paru-paru, mual, pucat, bengkak-bengkak," jelas dr. Dharmeizar dr. Dharmeizar, SpPD-KGH dari Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM.

Menurut Prof Dr dr Suhardjono, SpPD-KGH, KGer, pasien gagal ginjal atau penyakit ginjal kronis tahap awal berisiko meninggal 5-10 kali lipat lebih tinggi karena kejadian jantung dibanding pasian penyakit jantung terminal yang harus menjalani cuci darah.

"Ginjal sebenarnya tidak menyebabkan kematian, yang membuat orang meninggal karena jantungnya berhenti. Kalau ginjalnya mati kan bisa didialisis," ungkap Prof Suhardjono.

Ini karena ketika seseorang mengalami kelainan ginjal maka juga akan terjadi kelainan lain seperti anemia, peradangan kronik, toksin uremik, hiperkalemia (kalium berlebih dalam darah) yang akhirnya menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan folat sehingga lama-lama menyebabkan kerusakan di jantung.

(lll/up)

Berita Terkait