5 Nominator Oscar 2018 yang Punya Masalah Kesehatan

5 Nominator Oscar 2018 yang Punya Masalah Kesehatan

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Senin, 05 Mar 2018 11:15 WIB
5 Nominator Oscar 2018 yang Punya Masalah Kesehatan
Foto: Instagram
Jakarta - Saat ini sedang dilangsungkan acara Academy Awards yang ke-90 di Dolby Theatre California. Ada beberapa pelaku dan pekerja film yang terlibat menjadi nominasi ternyata mengidap masalah kesehatan.

Namun, masalah kesehatan ini tidak menghalangi mereka untuk terus berkarya. Dikutip dari TheMighty.com, berikut 5 nominator Oscar 2018 dengan masalah kesehatan:

Baca juga: ToF: Kelainan Jantung yang Diidap Anak Jimmy Kimmel, Pembawa Acara Oscar 2018

1. Emily V. Gordon, Nominator Best Original Screenplay

Foto: Instagram/emilyvgordon
Emily Gordon dan suaminya Kumail Nanjiani adalah penulis naskah dari film layar lebar The Big Sick yang terinspirasi dari kisah nyata romansa mereka. Film ini menceritakan mengenai kemelut hidup saat pasangan kita sedang sakit parah, dinominasikan dalam kategori Best Original Screenplay.

Gordon mengidap Adult-Onset Still's Disease, sebuah bentuk langka dari peradangan sendi yang menyebabkan radang pada seluruh tubuh. Penyakit ini menjadi salah satu pokok cerita dari film tersebut.

2. Sally Hawkins, Nominator Best Actress

Foto: Kevork Djansezian/Getty Images
Tak banyak yang tahu bahwa aktris dari film The Shape of Water ini ternyata mengidap Lupus Eritematosus Sistemik, sebuah penyakit yang menyebabkan kelelahan kronis.

"Saya sangat letih tapi itu tidak menghentikan saya. Saya sangat beruntung sih kebanyakan. Saya tidak lumpuh karenanya, seperti beberapa orang. Saya hanya perlu membuatnya stabil," kata Sally yang memerankan Eliza.

Baca juga: Sally Hawkins, Pengidap Lupus yang Masuk Nominasi Oscar 2018

3. Mindy Alper, Nominator Best Documentary Short Subject

Foto: Instagram/officialsbiff
Film dokumenter berjudul Heaven Is a Traffic Jam on the 405 dinominasikan dalam kategori Best Documentary Short Subject, berfokus pada Mindy Alper yang berjuang dengan gangguan mentalnya dan bagaimana ia menyalurkan emosinya pada karya seninya (salah satunya adalah patung setinggi 8 kaki yang terbuat dari kertas papier-mache, dengan psikiaternya sebagai model).

"Aku teringat beberapa waktu saat aku tak bisa berbicara untuk waktu yang lama dan menggunakan gambar untuk berkomunikasi," jelas Alper.

4. Octavia Spencer, Nominator Best Supporting Actress

Foto: Getty Images
Spencer sudah lama mengidap disleksia, dan terbantu menanganinya lewat novel-novel misteri yang dikenalkan gurunya dulu. Kini, ia menjadi seorang penulis dari dua buku detektif remaja. Spencer berperan menjadi Zelda, rekan kerja Eliza di film The Shape of Water.

"Aku dulu anak disleksia dan sekarang aku seorang disleksia dewasa; tak berarti kamu tidak cerdas, hanya saja otakmu berfungsi secara berbeda," kata Spencer. "Aku teringat aku berpikir dengan cara lain. Aku dapat memecahkan teka-teki lebih cepat dari anak-anak pada umumnya. Aku akan memulai masuk labirin dari gerbang akhir dan mencapai gerbang awal, kira-kira 30 detik. Pemikiran deduktifku amat penting."

Baca juga: Kisah Dawwi, Anak Disleksia Dengan Cita-cita Tinggi

5. Maisie Sly, Nominator Best Live Action Short Film

Foto: Instagram/silent_child_film
Sly memerankan Libby, seorang gadis kecil tuli dengan orang tua dan saudara yang dapat mendengar pada film The Silent Child. Sly sendiri juga tidak dapat mendengar, yang menjadikannya sangat spesial di film yang dinominasikan dalam kategori Best Live Action Short Film.

"Maisie merepresentasikan seluruh Komunitas Tuli dalam film tersebut, kami sebagai keluarga juga tergabung dalam komunitas itu dan tak dapat mengekspresikan betapa bangganya kami pada Maisie," kata Gilson, ayah Maisie.
Halaman 2 dari 6
Emily Gordon dan suaminya Kumail Nanjiani adalah penulis naskah dari film layar lebar The Big Sick yang terinspirasi dari kisah nyata romansa mereka. Film ini menceritakan mengenai kemelut hidup saat pasangan kita sedang sakit parah, dinominasikan dalam kategori Best Original Screenplay.

Gordon mengidap Adult-Onset Still's Disease, sebuah bentuk langka dari peradangan sendi yang menyebabkan radang pada seluruh tubuh. Penyakit ini menjadi salah satu pokok cerita dari film tersebut.

Tak banyak yang tahu bahwa aktris dari film The Shape of Water ini ternyata mengidap Lupus Eritematosus Sistemik, sebuah penyakit yang menyebabkan kelelahan kronis.

"Saya sangat letih tapi itu tidak menghentikan saya. Saya sangat beruntung sih kebanyakan. Saya tidak lumpuh karenanya, seperti beberapa orang. Saya hanya perlu membuatnya stabil," kata Sally yang memerankan Eliza.

Baca juga: Sally Hawkins, Pengidap Lupus yang Masuk Nominasi Oscar 2018

Film dokumenter berjudul Heaven Is a Traffic Jam on the 405 dinominasikan dalam kategori Best Documentary Short Subject, berfokus pada Mindy Alper yang berjuang dengan gangguan mentalnya dan bagaimana ia menyalurkan emosinya pada karya seninya (salah satunya adalah patung setinggi 8 kaki yang terbuat dari kertas papier-mache, dengan psikiaternya sebagai model).

"Aku teringat beberapa waktu saat aku tak bisa berbicara untuk waktu yang lama dan menggunakan gambar untuk berkomunikasi," jelas Alper.

Spencer sudah lama mengidap disleksia, dan terbantu menanganinya lewat novel-novel misteri yang dikenalkan gurunya dulu. Kini, ia menjadi seorang penulis dari dua buku detektif remaja. Spencer berperan menjadi Zelda, rekan kerja Eliza di film The Shape of Water.

"Aku dulu anak disleksia dan sekarang aku seorang disleksia dewasa; tak berarti kamu tidak cerdas, hanya saja otakmu berfungsi secara berbeda," kata Spencer. "Aku teringat aku berpikir dengan cara lain. Aku dapat memecahkan teka-teki lebih cepat dari anak-anak pada umumnya. Aku akan memulai masuk labirin dari gerbang akhir dan mencapai gerbang awal, kira-kira 30 detik. Pemikiran deduktifku amat penting."

Baca juga: Kisah Dawwi, Anak Disleksia Dengan Cita-cita Tinggi

Sly memerankan Libby, seorang gadis kecil tuli dengan orang tua dan saudara yang dapat mendengar pada film The Silent Child. Sly sendiri juga tidak dapat mendengar, yang menjadikannya sangat spesial di film yang dinominasikan dalam kategori Best Live Action Short Film.

"Maisie merepresentasikan seluruh Komunitas Tuli dalam film tersebut, kami sebagai keluarga juga tergabung dalam komunitas itu dan tak dapat mengekspresikan betapa bangganya kami pada Maisie," kata Gilson, ayah Maisie.

(Frieda Isyana Putri/up)

Berita Terkait