Jakarta -
Memiliki lemak berlebih di area perut tentu bukan hal yang bisa dibanggakan. Meski banyak orang beranggapan bahwa perut buncit lambang kemakmuran, namun dari sisi kesehatan perut buncit bisa memicu penyakit.
Seperti dikutip dari Shape, ada faktor-faktor yang menyebabkan usaha seseorang sia-sia, meski sudah bekerja keras mengecilkan perut buncitnya. Apa saja itu?
Tidak melakukan latihan yang benar
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Mungkin Anda akan berpikir bahwa cardio adalah cara untuk membakar lemak di perut. Memang, latihan seperti berlari dan bersepeda dapat membantu Anda membakar kalori, tetapi mungkin tidak bijaksana jika hanya mengandalkan kardio.
Latihan seperti HIIT atau pelatihan resistensi mungkin lebih efektif karena akan memberikan efek afterburn (asalkan Anda berlatih keras selama sesi tersebut), meningkatkan metabolisme selama berjam-jam setelah latihan usai.
Sedang stres
Foto: thinkstock
|
Salah satu hal yang sering kita hadapi adalah stres. Ketika Anda sedang stres, tubuh Anda melepaskan hormon yang disebut kortisol yang menyebabkan kadar gula darah Anda turun. Itulah mengapa Anda sering menginginkan makanan bergula dan berlemak selama waktu tersebut.
Selama 'masa-masa sulit' itu, tubuh Anda juga masuk ke mode flight-or-fight di mana otak Anda berpikir bahwa Anda telah menghabiskan semua kalori meskipun Anda belum melakukannya. Bahkan jika Anda sibuk di tempat kerja, penting untuk beristirahat dan bersantai. Itu akan membantu Anda secara mental maupun fisik.
Tidak cukup berolahraga
Foto: Thinkstock
|
Saat berolahraga, cobalah untuk mencapai intensitas 70 hingga 85 persen dari denyut jantung maksimal Anda. Pada tingkat itu, Anda akan merasa sulit untuk berbicara.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Medicine and Science dalam Olahraga dan Latihan, wanita pascamenopause yang melakukan latihan berintensitas tinggi selama 16 minggu kehilangan lebih banyak lemak perut daripada mereka yang melakukan latihan intensitas rendah.
Pada akhirnya, membakar lemak membutuhkan defisit kalori, dan Anda akan dapat mencapainya dengan lebih efisien ketika Anda meningkatkan intensitas latihan Anda.
Mungkin Anda akan berpikir bahwa cardio adalah cara untuk membakar lemak di perut. Memang, latihan seperti berlari dan bersepeda dapat membantu Anda membakar kalori, tetapi mungkin tidak bijaksana jika hanya mengandalkan kardio.
Latihan seperti HIIT atau pelatihan resistensi mungkin lebih efektif karena akan memberikan efek afterburn (asalkan Anda berlatih keras selama sesi tersebut), meningkatkan metabolisme selama berjam-jam setelah latihan usai.
Salah satu hal yang sering kita hadapi adalah stres. Ketika Anda sedang stres, tubuh Anda melepaskan hormon yang disebut kortisol yang menyebabkan kadar gula darah Anda turun. Itulah mengapa Anda sering menginginkan makanan bergula dan berlemak selama waktu tersebut.
Selama 'masa-masa sulit' itu, tubuh Anda juga masuk ke mode flight-or-fight di mana otak Anda berpikir bahwa Anda telah menghabiskan semua kalori meskipun Anda belum melakukannya. Bahkan jika Anda sibuk di tempat kerja, penting untuk beristirahat dan bersantai. Itu akan membantu Anda secara mental maupun fisik.
Saat berolahraga, cobalah untuk mencapai intensitas 70 hingga 85 persen dari denyut jantung maksimal Anda. Pada tingkat itu, Anda akan merasa sulit untuk berbicara.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Medicine and Science dalam Olahraga dan Latihan, wanita pascamenopause yang melakukan latihan berintensitas tinggi selama 16 minggu kehilangan lebih banyak lemak perut daripada mereka yang melakukan latihan intensitas rendah.
Pada akhirnya, membakar lemak membutuhkan defisit kalori, dan Anda akan dapat mencapainya dengan lebih efisien ketika Anda meningkatkan intensitas latihan Anda.
(hrn/fds)