Jakarta -
Dalam dunia kerja, lingkungan berperan besar dalam mempengaruhi kesehatan mentalmu. Terlebih lagi para rekan kerja yang kamu temui setiap lima atau enam hari dalam seminggu.
Kalau lingkungan dan rekan kerjamu tidak mendukung, lama-kelamaan bisa berujung membuatmu stres dan tidak produktif.
dr Nuri Purwito, MSc, MKK, SpOK, dari Perhimpunan Dokter Spesialis Okupasi Indonesia (PERDOKI) mengatakan setiap orang memang memiliki batas ambang stres yang berbeda-beda. Namun jika dilihat dari teorinya, stres yang sudah memuncak biasanya akan membuat seseorang kehilangan gairah bekerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika kamu mempunyai rekan kerja yang punya sifat-sifat seperti berikut ini, jangan abaikan! Ikuti tipsnya untuk mengatasi agar jauhkan stres darimu.
Suka narsis
Foto: Thinkstock
|
Bukan cuma narsis yang dikaitkan dengan suka eksis atau mengambil swafoto setiap waktu, namun narsis di sini lebih dikaitkan dengan sikap yang kurang berempati dan lebih mementingkan diri sendiri."Ketidakmampuan untuk mengakses rasa empati mengarah pada obyektifikasi orang lain. Dengan demikian, para narsisis ini sulit untuk membedakan mana orang mana benda mati, karena dianggap hanya ada untuk melayani kebutuhannya dan akan diganti jika dirasa kurang," terang Jolene Hwee, seorang psikolog dari Womancare Psychological Services, dilansir dari Channel News Asia.
Biasanya, rekan kerjamu akan menunjukkan sikap egosentrisme yang tinggi, seperti membenarkan perilakunya dan menyalahkan orang lain serta biasanya punya banyak orang di sekitarnya yang menyetujui pola berpikirnya.
Jika kamu mempunyai rekan kerja yang narsisis, jangan langsung katakan kesalahannya di depan mukanya, karena umumnya dia akan marah dan menjadi defensif sehingga membuatmu jadi orang yang 'salah'.
"Bersabar dan mendengarkannya akan lebih baik. Pada waktu yang tepat, perlahan beritahu bahwa pendekatannya terhadap situasi-situasi tertentu perlu ditingkatkan. Tekankan bahwa kesulitan ada dalam perilakunya, bukan orangnya, serta fakta bahwa saranmu dapat membantunya mencapai tujuannya," kata Dr Adrian Wang dari Dr Adrian Wang Psychiatric and Counselling Care.
Suka mendominasi
Foto: Thinkstock
|
Menurut Dario Maestripieri, seorang profesor di University of Chicago, kadang sifat dominan ada yang baik (socially dominant) dan ada yang buruk (aggressively dominant). Yang perlu kita hindari adalah dominan yang agresif."Mereka yang agresif biasanya terlihat diktator dalam berstrategi dan lebih mengandalkan pengalaman pribadi mereka. Sementara yang sosial umumnya mempunyai kawan dan mencoba mempengaruhi yang lain dengan argumen mereka yang solid," jelasnya.
Agar tak menjadi masalah, jangan melawan mereka yang suka mendominasi, namun 'manfaatkan'lah mereka dengan cara yang baik misal dalam situasi-situasi tertentu.
Karena umumnya mereka yang dominan adalah seorang ekstrovert dan pandai berbicara, maka akan sangat berguna dalam situasi di mana ada negosiasi yang ketat. Mereka juga akan menjadi representatif yang baik untuk sebuah tim, tapi perlu diingat bahwa diperlukan adanya kesepakatan yang baik terlebih dahulu di awal.
Sangat agresif
Foto: Thinkstock
|
Orang yang asertif biasanya menyebutkan poin mereka namun masih menghargai lawan bicaranya, sedangkan mereka yang agresif langsung menyerang atau tak mengindahkan pendapat lawan bicaranya karena lebih mementingkan dirinya. Adakah rekan kerjamu yang seperti itu?Dr Lim Boon Leng, psikiater dari Gleneagles Hospital menyebutkan yang biasanya memicu keagresifan adalah pemikiran negatif dan penilaian yang tidak akurat atas tindakan seseorang yang biasanya muncul karena harga diri yang rendah.
"Misalnya kamu sedang melamun di tempat kerja dan rekan kerjamu menyapamu tapi tidak kamu balas. Jika rekan kerjamu punya isu insecure, ia bisa jadi salah paham dan malah marah padamu karena mengira kamu mengabaikannya," lanjutnya.
Ia menyarankan jika ada rekan kerjamu yang bersikap seperti di atas, cobalah untuk mengklarifikasi dan jelaskan kesalahpahamannya. Lalu, jangan pernah sekali-kali terbawa rasa agresif karena justru akan membuatnya semakin menjadi.
"Tujuannya adalah untuk menemukan hasil win-win solution, maka tetaplah terlihat tulus dalam menyuarakan pemikiranmu dan ingin membantu. Sukar untuk tetap marah dan bersifat agresif pada orang yang mencoba membantumu," pungkas dr Lim.
Sering tidak setuju
Foto: Ilustrasi/thinkstock
|
Jika ada rekan kerjamu yang suka menjaga jarak, tidak terlihat akrab, susah kooperatif dan cenderung menempatkan minat mereka di atas yang lain, maka bisa jadi ia memliki sifat yang perlu kamu hindari agar tak membuat stres.
Namun, perlu diingat bahwa tiap individu memiliki kepribadian dan cara bekerja yang berbeda. Oleh karena itu, ketimbang langsung judge mereka dengan berbagai asumsi, dr Hwee menyarankan untuk tidak tersinggung karenanya.
"Jika seseorang secara konsisten terus menunjukkan sikap tidak setuju, masalahnya ada di dalam dirinya, bukan di dalam dirimu," imbuhnya.
dr Lim juga menyarankan dapat 'memanfaatkan' sifat tersebut pada situasi di mana ada keputusan yang tidak biasa harus ditetapkan. Karena biasanya mereka mempunyai pemikiran yang berbeda.
Bukan cuma narsis yang dikaitkan dengan suka eksis atau mengambil swafoto setiap waktu, namun narsis di sini lebih dikaitkan dengan sikap yang kurang berempati dan lebih mementingkan diri sendiri.
"Ketidakmampuan untuk mengakses rasa empati mengarah pada obyektifikasi orang lain. Dengan demikian, para narsisis ini sulit untuk membedakan mana orang mana benda mati, karena dianggap hanya ada untuk melayani kebutuhannya dan akan diganti jika dirasa kurang," terang Jolene Hwee, seorang psikolog dari Womancare Psychological Services, dilansir dari Channel News Asia.
Biasanya, rekan kerjamu akan menunjukkan sikap egosentrisme yang tinggi, seperti membenarkan perilakunya dan menyalahkan orang lain serta biasanya punya banyak orang di sekitarnya yang menyetujui pola berpikirnya.
Jika kamu mempunyai rekan kerja yang narsisis, jangan langsung katakan kesalahannya di depan mukanya, karena umumnya dia akan marah dan menjadi defensif sehingga membuatmu jadi orang yang 'salah'.
"Bersabar dan mendengarkannya akan lebih baik. Pada waktu yang tepat, perlahan beritahu bahwa pendekatannya terhadap situasi-situasi tertentu perlu ditingkatkan. Tekankan bahwa kesulitan ada dalam perilakunya, bukan orangnya, serta fakta bahwa saranmu dapat membantunya mencapai tujuannya," kata Dr Adrian Wang dari Dr Adrian Wang Psychiatric and Counselling Care.
Menurut Dario Maestripieri, seorang profesor di University of Chicago, kadang sifat dominan ada yang baik (socially dominant) dan ada yang buruk (aggressively dominant). Yang perlu kita hindari adalah dominan yang agresif.
"Mereka yang agresif biasanya terlihat diktator dalam berstrategi dan lebih mengandalkan pengalaman pribadi mereka. Sementara yang sosial umumnya mempunyai kawan dan mencoba mempengaruhi yang lain dengan argumen mereka yang solid," jelasnya.
Agar tak menjadi masalah, jangan melawan mereka yang suka mendominasi, namun 'manfaatkan'lah mereka dengan cara yang baik misal dalam situasi-situasi tertentu.
Karena umumnya mereka yang dominan adalah seorang ekstrovert dan pandai berbicara, maka akan sangat berguna dalam situasi di mana ada negosiasi yang ketat. Mereka juga akan menjadi representatif yang baik untuk sebuah tim, tapi perlu diingat bahwa diperlukan adanya kesepakatan yang baik terlebih dahulu di awal.
Orang yang asertif biasanya menyebutkan poin mereka namun masih menghargai lawan bicaranya, sedangkan mereka yang agresif langsung menyerang atau tak mengindahkan pendapat lawan bicaranya karena lebih mementingkan dirinya. Adakah rekan kerjamu yang seperti itu?
Dr Lim Boon Leng, psikiater dari Gleneagles Hospital menyebutkan yang biasanya memicu keagresifan adalah pemikiran negatif dan penilaian yang tidak akurat atas tindakan seseorang yang biasanya muncul karena harga diri yang rendah.
"Misalnya kamu sedang melamun di tempat kerja dan rekan kerjamu menyapamu tapi tidak kamu balas. Jika rekan kerjamu punya isu insecure, ia bisa jadi salah paham dan malah marah padamu karena mengira kamu mengabaikannya," lanjutnya.
Ia menyarankan jika ada rekan kerjamu yang bersikap seperti di atas, cobalah untuk mengklarifikasi dan jelaskan kesalahpahamannya. Lalu, jangan pernah sekali-kali terbawa rasa agresif karena justru akan membuatnya semakin menjadi.
"Tujuannya adalah untuk menemukan hasil win-win solution, maka tetaplah terlihat tulus dalam menyuarakan pemikiranmu dan ingin membantu. Sukar untuk tetap marah dan bersifat agresif pada orang yang mencoba membantumu," pungkas dr Lim.
Jika ada rekan kerjamu yang suka menjaga jarak, tidak terlihat akrab, susah kooperatif dan cenderung menempatkan minat mereka di atas yang lain, maka bisa jadi ia memliki sifat yang perlu kamu hindari agar tak membuat stres.
Namun, perlu diingat bahwa tiap individu memiliki kepribadian dan cara bekerja yang berbeda. Oleh karena itu, ketimbang langsung judge mereka dengan berbagai asumsi, dr Hwee menyarankan untuk tidak tersinggung karenanya.
"Jika seseorang secara konsisten terus menunjukkan sikap tidak setuju, masalahnya ada di dalam dirinya, bukan di dalam dirimu," imbuhnya.
dr Lim juga menyarankan dapat 'memanfaatkan' sifat tersebut pada situasi di mana ada keputusan yang tidak biasa harus ditetapkan. Karena biasanya mereka mempunyai pemikiran yang berbeda.
(Frieda Isyana Putri/up)