Pasien yang identitasnya dirahasiakan itu mengalami kekurangan gizi dan sulit bergerak karena tumor di indung telurnya. Berukuran lebih dari 100 cm, dokter mengatakan hal ini merupakan kasus langka dan jarang terjadi.
"Tumor di indung telur memang cenderung besar. Namun tumor sebesar ini sangat langka, mungkin hanya ada 10 atau 20 kasus di dunia yang berhasil mengangkat tumor sebesar ini," ungkap dr Vaagn Andikyan, pakar ginekologi-onkologi dari Western Connecticut Health Network, dikutip dari CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Andikyan mengatakan tumor besar berbahaya bukan hanya karena pasien jadi kekurangan gizi. Ukuran tumor yang besar bisa membuat pembuluh darah terjepit dan mengancam nyawa pasien.
Selain itu, pasien dengan tumor besar juga akan mengalami disabilitas. Belum lagi risiko adanya komplikasi pada saraf hingga pembekuan darah yang bisa menyebabkan stroke.
Hal ini membuat pasien juga harus kehilangan sekitar 2,7 kg jaringan dinding perut. dr Andikyan mengatakan pasien membutuhkan operasi bedah plastik rekonstruksi untuk memperbaiki perutnya yang rusak karena tumor tersebut.
Beruntung, organ reproduksi pasien tidak mengalami masalah. Pasien dinyatakan bisa tetap memiliki anak karena rahim dan indung telur sebelah kanan tidak mengalami kerusakan berarti.
Pasien juga diketahui mengalami masa pemulihan yang baik. Tiga bulan pasca operasi, dr Andikyan mengatakan pasien sudah kembali hidup normal, bekerja, meskipun masih harus menjalani perawatan kontrol ke rumah sakit.











































