Jumat, 11 Mei 2018 16:17 WIB

Ini Saran Dokter untuk Mencegah Dampak Abu Merapi Bagi Kesehatan

Widiya Wiyanti - detikHealth
Menggunakan masker merupakan salah satu upaya untuk mencegah dampak abu vulkanik. Foto: Edzan Raharjo/detikcom Menggunakan masker merupakan salah satu upaya untuk mencegah dampak abu vulkanik. Foto: Edzan Raharjo/detikcom
Jakarta - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi sudah mencapai ke pusat Kota Yogyakarta. Abu vulkanik mengandung partikel-partikel bersifat iritatif yang bisa menyebabkan peradangan.

Biasanya terjadi peradangan di saluran pernapasan. Apalagi bagi orang yang sudah memiliki gangguan saluran napas, terpapar debu vulkanik membuatnya menjadi lebih rentan untuk kambuh.

Untuk mencegah dampak buruk dari paparan abu vulkanik ini, dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menyebutkan ada tiga langkah pencegahan yang harus dilakukan masyarakat sekitar.

"Salah satu upaya pencegahan mulai dari primer, sekunder, dan tersier. Yang primer itu mencegah denga menggunakan pelindung diri," ujarnya kepada detikHealth, Jumat (11/5/2018).


Pelindung diri yang dimaksud adalah masker untuk melindungi saluran pernapasan, kacamata untuk melindung mata terkena debu vulkanik, dan baju lengan panjang untuk menghindari adanya iritasi pada kulit.

Kemudian pencegahan sekunder yang dimaksud dr Agus adalah deteksi dini. Ketika terpapar abu vulkanik, sebaiknya lebih sadar akan tanda-tanda yang diberikan tubuh untuk menjadi alarm.

"Kalau sudah ada gejala dampak dari abu vulkanik, misalnya batuk-batuk, bersin-bersin, tenggorokan gatal, itu sudah harus dikenali. Kemudian deteksi dini untuk segera periksa ke dokter," jelasnya.

Sedangkan pencegahan tersier yang dimaksud bagi orang yang memang sebelumnya sudah memiliki gangguan saluran napas, seperti asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK.

"Tujuannya untuk mengurangi dampak abu vulkanik supaya tidak samakin parah. Disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan," tandas dr Agus.

(wdw/wdw)