OCD yang mereka idap membuat keduanya jarang meninggalkan rumah saking parahnya. Bahkan disebut-sebut dalam beberapa media mereka mandi selama 10 jam tiap harinya dan menghabiskan satu batang sabun agar benar-benar bersih.
Kelainan mental ini bisa mempunyai beberapa gejala dan kondisi serius lainnya akibat frustasi yang mereka rasakan dan harus dilakukan berulang-ulang, bahkan hingga kematian. Berikut 5 gejala dan kondisi serius yang sudah dirangkum oleh detikHealth:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Tanda-tanda Seseorang Memiliki OCD (1) |
Depresi
|
Foto: Thinkstock
|
"Itu salah satu alasan tingginya kasus depresi dengan OCD karena hal tersebut mengganggu hidup mereka dengan cara yang signifikan. Kebanyakan akan mengganggu hubungan atau kemampuan untuk bekerja secara efektif atau pergi ke sekolah," kata Eric Storch, profesor psikiatri di Baylor College of Medicine, Texas, dikutip dari Health Line.
Masalah bunuh diri
|
Foto: Thinkstock
|
"Makin parah OCD seseorang, yang sering kali bertepatan dengan tidak menanggapi intervensi, semakin besar kemungkinan mereka untuk mulai berpikir tentang bunuh diri," kara Prof Storch.
Body dysmorphic disorder
|
Foto: Thinkstock
|
Kadang, body dysmorphic disorder ini juga mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan OCD itu sendiri, misal sering mencabut kulit sendiri, merawat diri serta olahraga yang berlebihan.
Hoarding disorder
|
Suasana kamar seorang pengidap hoarding disorder (Foto: BMJ Case Reports)
|
Biasanya disertai dengan kecemasan; mereka mungkin tak mau menyingkirkannya tapi juga merasa malu karena barang-barang tersebut. Akhirnya mereka menumpuk semua barang-barang tersebut.
Dalam kasus yang serius, bisa mengganggu kehidupan sehari-hari, yaitu berkurangnya area fisik (karena menumpuknya barang), masalah sosial dan bahkan bahaya kesehatan karena kondisi kebersihan yang tak aman (misal barang yang ditumpuk adalah barang yang mudah membusuk).
Masalah dalam berhubungan
|
Foto: Thinkstock
|
Seringnya, pengidap OCD terus-terusan berpikir dan meragukan pasangannya. Hal ini bisa dikaitkan dengan tingkat daya tarik serta terus-terusan memberi pertanyaan mengenai kelayakan pasangan mereka.
Untuk menghindari kelima hal tadi, OCD dapat disembuhkan melalui terapi perilaku kognitif dan pengobatan antidepresi. Prof Storch menyebutkan 85 persen pasiennya merespon baik pada kedua terapi tersebut atau kombinasi dari keduanya.











































