Minggu, 13 Mei 2018 11:45 WIB

Yang Dibaca Otak dari Seruan 'Kami Tidak Takut'

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rasa takut itu manusiawi, kata psikiater. (Foto: Thinkstock) Rasa takut itu manusiawi, kata psikiater. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Media sosial diramaikan oleh tagar (tanda pagar) alias hashtag #KamiTidakTakut, #KamiTidakTakutTerorisme, dan sejenisnya. Rangkaian bom bunuh diri yang diledakkan teroris di sejumlah gereja di Surabaya telah membuat geram banyak orang.

Tidak ada yang salah dengan hashtag tersebut, namun rasanya bakal sangat sulit untuk benar-benar tidak takut ketika korban jiwa telah berjatuhan. Foto dan video korban terorisme yang begitu vulgar juga turut memupuk ketakutan. Masihkah relevan menyerukan sikap 'kami tidak takut'?

"Naluri manusia itu pasti takut, itu wajar," kata dr Suzy Yusna Dewi, SpKJ, psikiater dari RSJ dr Soeharto Heerdjan.

Menurut dr Suzi, sikap 'kami tidak takut' cukup dimaknai sebagai simbol saja. "Tidak takutnya kan dalam tanda kutip saja," tambahnya.



Foto: viral


Dibanding menyerukan tidak takut, psikolog Rahajeng Ika lebih menyarankan seruan yang lebih positif. Intinya yang tidak provokatif dan memancing situasi perang.

"Kata 'tidak' memang nggak seharusnya digunakan. Karena dibaca otak 'Saya Takut'," kata psikolog yang akrab disapa Ika tersebut.

Pendapat senada juga pernah disampaikan psikolog Liza Marielly Djaprie dalam wawancara dengan detikHealth, sesaat setelah aksi teror di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat awal 2016. Menurutnya, Neuro-linguistic programming (NLP) lebih menganjurkan kata-kata positif untuk menanamkan sugesti tertentu.

"Sama seperti anak kecil. Kalau dilarang-larang; jangan pegang panci panas, dalam kepalanya malah muncul sugesti untuk memegang. Dengan sugesti 'kami tidak takut', amit-amit kalau suatu saat terjadi teror serupa, khawatirnya justru muncul rasa takut," jelas Liza saat itu.

(up/up)
News Feed