ADVERTISEMENT

Minggu, 13 Mei 2018 14:55 WIB

Tanda Seseorang Mengalami Trauma Setelah Serangan Bom

Firdaus Anwar - detikHealth
Polisi berjaga di lokasi kejadian ledakan bom Surabaya. (Foto: AFP Photo/JUNI KRISWANTO)
Jakarta - Ledakan bom yang terjadi di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi mengejutkan banyak pihak. Laporan korban terus bertambah setiap jam yang berlalu dan hal semacam ini menurut ahli kesehatan mental hampir dapat dipastikan akan meninggalkan trauma mendalam.

Dr Michael Craig Miller dari Harvard Mental Health Letter mengatakan bahwa dalam kejadian serangan bom orang-orang di lokasi dapat trauma setelah melihat dampak mengerikan setelah ledakan. Sementara itu orang yang jauh dari lokasi juga bisa ikut terpengaruh khawatir terhadap kondisi kerabatnya.

Mengomentari saat bom di Boston, Amerika Serikat, meledak pada tahun 2013 lalu menurut Dr Michael orang-orang dapat terkena post-traumatic stress disorder (PTSD). Setiap orang kasusnya berbeda tapi bisa saja butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih dari hal tersebut.



"Untuk orang-orang yang terlibat dalam kejadian seperti bom Maraton Boston, sangat berguna untuk mengetahui beberapa detail dari PTSD. Semakin segera gejala dikenali, semakin mudah untuk pulih," kata Dr Michael seperti dikutip dari Harvard Mental Health Letter, Minggu (13/5/2018).

Tanda pertama dari PTSD menurut Dr Michael adalah hyperarousal. Kondisi hyperarousal membuat seseorang jadi selalu waspada, gampang terkejut, mudah marah dan terus menerus mengalami stres kronis.

Tanda berikutnya dari orang dengan PTSD adalah selalu dihantui oleh kenangan traumatis. Ia bisa merasakan sedang berada di lokasi kejadian bom secara berulang meski hal tersebut sebetulnya sudah lama terjadi.

Terakhir orang dengan PTSD akan jadi sulit untuk bergaul. Karena terus diganggu oleh trauma dan rasa takut dirinya mungkin saja jadi mengisolasi diri agar kenangan buruk tersebut tidak kembali.

"Seorang ahli kesehatan mental seharusnya dapat melihat gejala-gejala tersebut untuk mengambil keputusan apakah PTSD jadi masalah utamanya," pungkas Dr Michael.

(fds/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT