Jumat, 25 Mei 2018 12:47 WIB

Dokter Jiwa: Bulan Puasa Waktu yang Tepat untuk Terapi Perilaku

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Bulan Ramadan dikatakan dokter jiwa bisa jadi waktu yang tepat untuk memulai terapi perilaku bagi diri sendiri. Simak selengkapnya berikut. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Kewajiban berpuasa dan menahan hawa nafsu di bulan Ramadan dikatakan dokter jiwa bisa jadi sarana untuk terapi perilaku.

dr Andri, SpKJ, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, mengatakan kesempatan untuk terapi perilaku di bulan Ramadan sangat besar. Sebabnya, puasa yang diwajibkan bagi umat muslim bukan sekadar menahan haus dan lapar, tapi juga hawa nafsu, termasuk amarah, iri, dan lain-lain.



"Jadi bulan puasa ini, terapi perilaku difasilitasi oleh kewajiban umat muslim di seluruh dunia. Karena wajib puasa, wajib menahan hawa nafsu dan amarah, jadi tidak bisa ditawar. Kecuali yang tidak memungkinkan, sakit misalnya," ungkap dr Andri saat dihubungi detikHealth.

Kewajiban menahan emosi dan marah ini membantu seseorang untuk mengendalikan dirinya. Hal inilah yang dimaksud dr Andri sebagai terapi perilaku.

Di dalam dunia psikologi dan psikiatri, terapi perilaku merupakan metode penanganan masalah psikologis dengan mencari tahu apa penyebab masalah yang dialami. Setelah tahu penyebab masalah, maka dibutuhkan perubahan perilaku agar masalah tersebut tidak lagi muncul.

dr Andri mengatakan dengan terbatasnya perilaku, maka emosi-emosi negatif menjadi bisa ditahan dan dikurangi. Di sisi lain, emosi-emosi positif seperti rasa senang, bersyukur, dan empati kepada sesama harus ditingkatkan.

"Karena puasa, jadi bisa mempunyai kemampuan mengolah pikiran dan perasaannya, tidak lagi melakukan hal-hal yang negatif. Dengan begitu pola pikirnya akan berubah, dan perilakunya juga akan berubah lebih positif," tutupnya.

(mrs/up)