Jumat, 25 Mei 2018 13:15 WIB

Zaman Sudah Modern, Masih Pakai Istilah 'Autis' Buat Bercanda?

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Perlakuan terhadap penyandang autisme kerap kali tidak bersahabat (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Beberapa waktu lalu, tak jarang kita mendengar candaan 'kamu autis!' sering dilontarkan anak-anak muda kepada kawannya yang terlihat jarang bersosialisasi. Hal ini menunjukkan betapa kata 'autis' telah mengalami pergeseran makna, begitu juga dengan cara bagaimana kebanyakan orang menghadapi mereka pengidap autisme.

"Masih annoying ya kalau buat saya. Bahkan di sini aja awal-awalnya para orang tua kayaknya cuek sama anaknya," ungkap Edhie Rianto, bagian Marketing dari Yayasan Daya Pelita Kasih Jakarta Selatan kepada detikHealth, Kamis (24/5/2018).

Edhie menyebutkan di yayasan yang juga merupakan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus tersebut sempat memiliki masalah komunikasi dengan orang tua murid. Yang pada akhirnya berimbas pada perkembangan anak-anak itu sendiri.



Pada akhirnya, Yayasan Edhie memutuskan untuk berkomunikasi secara intens terkait dengan apapun perihal murid. Keputusan tersebut membawa perubahan yang signifikan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Andes, salah satu guru di yayasan tersebut. Masih banyak orang yang ia lihat masih memandang anak-anak autis dengan sebelah mata.

"Biasanya kalo misalnya saya bawa anak-anak ke mall, ada beberapa oranglah yang ketika saya bawa anak-anak ada yang ngelihat, tatapannya tatapan yang nggak wajar gitu. Langsung menghindar, terus ya maap-maap aja kayaknya 'jijik' gitu," kata Andes.

Namun bagi Ananda Sukarlan, pianis kondang yang juga seorang pengidap sindrom Asperger's, salah satu bentuk autisme, sikap orang tua masa kini masih lebih baik ketimbang pada zamannya dulu di mana autisme belum dikenal.

"Saya nggak tau pasti ada nggak sih orang tua yang nggak mau, apalagi mereka suka denial kan. Termasuk kayak 'duh anak saya jangan autis lah' gitu. Ada macem-macem sih tapi kayaknya udah jauh mendingan daripada dulu," tutur pria yang juga menyempatkan diri mengajar bagi guru piano di yayasan tersebut sejak 2014.

Agar tak lagi terjadi diskriminasi, Andes mengimbau pada semuanya untuk tidak menertawai mereka yang berkebutuhan khusus. Karena mereka juga manusia, yang bahkan mungkin punya kelebihan yang tidak bisa dianggap remeh.

(frp/up)