Kamis, 28 Jun 2018 09:16 WIB

Peneliti Universitas Indonesia Buktikan Anak Perokok Berisiko Alami Stunting

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Faruk Nickyrawi Foto: Faruk Nickyrawi
Jakarta - Dampak buruk rokok tak sebatas peningkatan risiko mengalami kanker dan penyakit lainnya bagi si perokok. Penelitian terbaru dari Universitas Indonesia menyebut anak perokok juga terdampak, yakni berisiko mengalami stunting.

Teguh Dartanto, PhD, Kepala Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, mengatakan risiko anak mengalami stunting meningkat jika orang tuanya merokok. Stunting merupakan masalah gizi pada anak, di mana anak mengalami hambatan pertumbuhan badan dan otak dibandingkan anak lain seusianya karena malnutrisi.

"Anak-anak yang orang tuanya merokok memiliki pertumbuhan berat badan 1,5 kilogram lebih rendah. Tinggi badannya juga, pertumbuhan tinggi badan anak lebih rendah 0,34 sentimeter," ujar Teguh selaku penanggung jawab penelitian, dalam temu media di Four Points, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2018).


Penelitian dilakukan oleh Tim Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia menggunakan dataset longitudinal tahun 1997-2014 dari Indonesian Family Life Survey. Dari penelitian, ditemukan bahwa konsumsi rokok meningkat dari 3,6 persen di tahun 1997 menjadi 5,6 persen di tahun 2014.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor, mulai dari faktor genetik, lingkungan, dan ekonomi, ditemukan bahwa anak yang memiliki orang tua perokok berisiko mengalami stunting 5,5 persen lebih tinggi.

Temuan lain yang tak kalah penting adalah stunting pada anak juga berpengaruh terhadap kecerdasannya. Anak-anak perokok memiliki skor lebih rendah dalam tes logika maupun tes matematika.

Karena itu menurut Teguh, pengendalian rokok masih harus ditingkatkan. Sebabnya, dampak rokok tidak hanya berpengaruh terhadap perokoknya saja, namun juga keturunan dan orang-orang lain di sekitarnya.

"Indonesia saat ini ada di middle-income country. Target untuk jadi high-income country akan sulit dicapai jika sumber daya generasi berikutnya lebih pendek dan kurang cerdas dibandingkan negara lain," tutup Teguh.

(mrs/up)
News Feed