Selasa, 10 Jul 2018 14:36 WIB

Tak Hanya Serviks, Rahim Juga Bisa Kena Kanker

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Selama ini kebanyakan wanita hanya mengenal kanker leher rahim (serviks) atau indung telur (ovarium). Akan tetapi rahim juga rentan terjangkit kanker. Foto: ilustrasi/thinkstock Selama ini kebanyakan wanita hanya mengenal kanker leher rahim (serviks) atau indung telur (ovarium). Akan tetapi rahim juga rentan terjangkit kanker. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Kanker rahim mungkin belum banyak dikenal di Indonesia, dan sering disalah artikan sebagai kanker leher rahim atau kanker serviks. Di Inggris, kanker rahim menjadi kanker nomor empat paling umum terjadi pada wanita.

Akan tetapi hanya sedikit yang mengenali gejalanya. Dilansir Cancer Research UK, kanker rahim atau uterine cancer menjangkit setidaknya sekitar 9.300 wanita di Inggris.

Sebuah survei yang dilakukan pada 1.000 wanita di Inggris menunjukkan hanya dua dari lima wanita tak mengenali gejalanya. Salah satunya Faith Caton (35), yang terdiagnosis saat sedang mencoba hamil.



"Kanker tak pernah disebutkan, sampai saat tumornya ditemukan. Semua orang kaget, termasuk ahli ginekolognya. Aku sama sekali tak tahu mengenai kanker rahim," ungkapnya, dikutip dari BBC.

Faith terdiagnosis endometriosis pada tahun 2015 dan telah menjalani pengobatan karena haid yang sangat banyak dan tidak teratur. Dokter menyebut kankernya agresif dan mengharuskan ia menjalani histerektomi (pengangkatan rahim), kemoterapi dan radioterapi.

Ia merasa sangat sedih karena harapannya untuk mempunyai anak sudah pupus, bahkan juga harus mengalami menopause dini. Terlebih lagi, dalam proses pemulihannya ia juga mengalami depresi, kerusakan saraf dan masalah pencernaan.

dr Athena Lamnisos dari Eve Appeal menyebutkan bahwa kanker rahim sangat dapat ditangani apabila terdeteksi dini dan gejalanya yang paling umum adalah pendarahan mendadak dari vagina, yang juga meliputi:

pendarahan setelah menopause
pendarahan antara siklus haid
pendarahan setelah berhubungan intim
haid yang tidak teratur dan banyak
haid yang terus-terusan banyak, dan tidak responsif pada penanganan medis
cairan vagina yang cair atau berdarah



Akan tetapi, tak semua pendarahan abnormal merupakan kanker rahim, namun tetap disarankan untuk mengunjungi dokter jika ada gejala-gejala tersebut. "Sekitar sepertiga kasus kanker rahim secara potensial dapat dicegah," imbuh dr Lamnisos.

Kebanyakan kanker rahim biasa terjadi pada wanita yang telah mengalami menopause dan berusia di atas 50 tahun. Namun kasus yang tidak biasa juga bisa terjadi pada wanita muda seperti Faith.

"Kita harus memastikan bahwa makin banyak perempuan yang aware, dan membicarakannya, dan tak takut untuk memeriksakannya ke dokter. Mari bekerjasama untuk berdialog, tak peduli seberapa memalukannya berbicara malsah ginekolog," tutur dr Lamnisos lagi.

Faith juga mewanti-wanti teman-teman sebayanya untuk segera periksa ke dokter apabila ada sesuatu yang tak biasa terjadi pada organ seksual mereka.

"Seandainya aku sendiri lebih cepat, aku tak perlu mengalami seperti ini dan bisa terdiagnosis lebih dini. Tapi aku tak ingin berpikir mengenai hal itu," tandasnya.

(frp/mrs)