Rabu, 11 Jul 2018 15:12 WIB

Kok Bisa Ya Ada Orang yang Tidur Sambil Berjalan? Ini Jawabannya

Suherni Sulaeman - detikHealth
Tidur sambil berjalan atau sleepwalking terjadi karena ketidakseimbangan bahan kimia di dalam tubuh seseorang/Foto: Thinkstock Tidur sambil berjalan atau sleepwalking terjadi karena ketidakseimbangan bahan kimia di dalam tubuh seseorang/Foto: Thinkstock
Jakarta - Di dunia nyata, tidur sambil berjalan atau sleepwalking mungkin tidak se-ekstrem di film-film, di mana seseorang berjalan dengan tangan direntangkan ke depan dan mata terpejam. Tetapi, fenomena ini merupakan kondisi medis sungguhan yang umumnya terjadi pada anak-anak bahkan orang dewasa. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh seseorang ketika tidur sambil berjalan?

Dikutip dari Times of India, sleepwalking terjadi karena ketidakseimbangan bahan kimia. Dengan kata sederhana, ada dua jenis bahan kimia yang diproduksi di otak, pertama ketika terjaga dan yang kedua ketika sedang tidur. Ketika ada keseimbangan dalam bahan kimia, ini menempatkan tubuh yang mengarah ke tidur. Sebaliknya, ketika ada gangguan pada kedua bahan kimia ini, maka akan menyebabkan tidur sambil berjalan.



Pada dasarnya, ada lima fase tidur sambil berjalan. Nah, kondisi ini biasanya terjadi selama tahap tiga dan empat, saat tubuh tertidur nyenyak dan NREM (non-rapid eye movement). Lantaran NREM ini tidak terhubung ke memori di otak, alhasil orang yang mengalami hal ini tidak akan mengingat kejadian tersebut. Bahkan tidur sambil memasak pun, orang yang mengalami benar-benar tidak ingat sama sekali.

Penyakit tidur ini cenderung terjadi pada anak-anak akibat tubuh tidak menghasilkan cukup bahan kimia yang mengistirahatkan tubuh. Zat kimia ini biasa dikenal sebagai GABA. Selain pada anak-anak, sleepwalking juga terjadi pada orang dewasa. Penyebabnya pun beragam, yakni stres, kelelahan, kurang tidur, terlalu banyak kafein, dan alkohol.

Di samping itu, masalah mental seperti stres, kecemasan serta depresi juga berkontribusi membuat seseorang mengalami sleepwalking. Untuk mengatasinya, cari tahu dulu penyebabnya. Jika stres maka harus hilangkan stresnya. Jika kurang tidur, tentu harus menjaga siklus tidur yang baik, misal tidur delapan jam sehari. Jika terlalu banyak asupan kafein dan alkohol, disarankan untuk menguranginya.

Namun, jika masalah ini tidak dapat dikendalikan dan tubuh tetap mengalami gangguan tidur ini, maka sebaiknya segera ke dokter spesialis saraf atau dokter spesialis kesehatan tidur untuk konsultasi ataupun mendapat terapi.

(hrn/up)
News Feed