Kamis, 19 Jul 2018 07:50 WIB

Perjuangan Bidan Desa Mayorin, Penolakan yang Berbuah Asa

Suherni Sulaeman - detikHealth
Bidan yang bertugas di tengah-tengah penduduk desa bukanlah hal yang mudah bagi wanita tinggi semampai ini. Ia pun menceritakan ceritanya. Foto: Suherni/detikHealth Bidan yang bertugas di tengah-tengah penduduk desa bukanlah hal yang mudah bagi wanita tinggi semampai ini. Ia pun menceritakan ceritanya. Foto: Suherni/detikHealth
Gorontalo - Cerita perjuangan penjual jasa di sebuah desa selalu mengundang haru dan takjub. Kali ini cerita itu datang dari Mayorin, seorang bidan desa di salah satu desa Haya-Haya, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Wanita berhijab ini ditempatkan di desa tersebut setelah diberi surat tugas oleh kepala Puskesmas pada tiga tahun lalu, tepatnya di tahun 2015.

"Ini kan merangkap dua desa, kebetulan ada ketambahan bidan, jadi saya ditempatkan di sini tahun 2015," kata Mayorin kepada detikHealth saat Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek melakukan kunjungan ke Pos Gizi Desa Haya-Haya.

Tentunya sebagai bidan yang bertugas di tengah-tengah penduduk desa bukanlah hal yang mudah bagi wanita tinggi semampai ini. Suka dan duka pun ia rasakan. Apalagi, saat memulainya, ia mendapat banyak penolakan.


Saksikan juga video 'Bangun Poliklinik Sendiri, Begini Cerita Bidan Desa Suruh Tembawang':

[Gambas:Video 20detik]



"Memang awalnya di sini kan susah untuk menyesuaikan dengan masyarakat di sini. Kebanyakan itu ada penolakan, sampai pernah saya dilaporkan ke DPRD," kenangnya.

"Jadi ada rakyat di sini kurang berkenan, mungkin belum kenal ya. Jadi penyesuaiannya itu susah. Jadi untuk mengajak atau berbaur dengan mereka masih susah. Begitu juga untuk merangkul mereka yang ibu-ibu hamil itu juga masih susah. Jadi butuh perjuangan ekstra," sambung Mayorin.

Namun ia tak mau putus asa, baginya keselamatan ibu dan anak adalah hal yang utama. Alhasil berkat kesabarannya tersebut, asa pun ia sambut.

"Alhamdulillah justru yang paling susah itu sekarang partisipasinya besar. Pasti setiap Posyandu lebih banyak lagi ibu hamil yang datang, yang tidak datang itu paling cuma satu atau dua orang, nah biasanya menyusul lagi periksa lagi ke Puskesmas," pungkas Mayorin.

Ia melanjutkan, apabila dalam waktu satu bulan ibu hamil tidak datang, maka wajib periksa lagi ke Puskesmas. Begitu juga dengan bayi dan balita, jika tidak datang ke Puskesmas pun demikian, petugas kesehatan segera mengunjungi sekaligus mengintervensi.

"Begitu juga kalau ada yang sudah mulai turun berat badannya atau tidak naik, nah pas datang lagi kita tanya 'kenapa kok turun', setelah pelayanan, kita diskusikan itu dengan kepala desa, petugas gizi, bidan desa, sama kader-kader. Kita evaluasi lagi apa kendalanya. Jadi kita cari, kita kaji lagi apa yang kurang. Pas kita dapat, kita kasih penyuluhan," pungkasnya.

Perjuangan Bidan Desa Mayorin, Penolakan yang Berbuah Asa
(hrn/up)
News Feed