Jumat, 20 Jul 2018 10:35 WIB

Sedang Marah atau Galau Bikin Seseorang Lebih Mudah Dihipnotis

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Psikolog menyebut berhasil atau tidaknya hipnotis berkaitan dengan kondisi psikologis yang dialami seseorang. Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi Psikolog menyebut berhasil atau tidaknya hipnotis berkaitan dengan kondisi psikologis yang dialami seseorang. Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi
Jakarta - Sebagai bagian dari ilmu psikologi, hipnotis lazim digunakan psikolog dalam menangani pasien. Sayangnya, penyalahgunaan hipnotis juga masih jadi masalah, dengan adanya kasus penipuan yang membuat korban hipnotis kehilangan harta benda.

Dalam pemberitaan, kerap disebutkan korban hipnotis terlihat linglung. Menurut psikolog dari Personal Growth, Monica Sulistiawati, kondisi psikologis seseorang memang berpengaruh terhadap apakah hipnotis yang dilakukan bisa berhasil atau tidak.



Monica menyebut hipnosis bisa dilakukan ketika seseorang berada dalam kondisi sugestif dan terfokus. Artinya korban hipnotis berada dalam kondisi sadar dan fokus pada bimbingan suara pelaku hipnotis.

"Umumnya kondisi-kondisi psikologis tertentu menunjukkan adanya keberpusatan (fokus) seseorang pada sesuatu hal. Misalnya saat sedang marah atau sedih, tentu orang akan berfokus pada permasalahan yang dialami. Inilah yang menyebabkan orang tersebut menjadi lebih mudah tersugesti," terang Monica saat dihubungi detikHealth.

Berbeda dengan anggapan awam, orang yang sedang cemas dan ketakutan justru lebih sulit untuk dipengaruhi hipnotis. Hal ini dikarenakan kondisi mereka yang belum rileks, sehingga harus relaksasi sebelum diarahkan untuk memasuki kondisi hipnosis.

Ketika tubuh sudah rileks, orang akan lebih mudah untuk menerima ide, saran atau sugesti yang diberikan. Hal inilah yang menjadi alasan korban hipnotis mau mengikuti omongan pelaku, mulai dari menyerahkan uang dan harta benda serta memberikan informasi pribadi.

Hanya saja, Monica menyebut sejatinya tidak mudah menghipnotis seseorang, apalagi jika dilakukan di jalanan yang ramai. Orang yang dihipnotis harus memiliki keinginan sebelumnya untuk mengikuti saran, ide atau sugesti yang diberikan pelaku.

"Jadi bukan berarti orang tersebut tidak dapat menolak. Ia sebenarnya dapat saja menolak sugesti yang diberikan dan tidak mengikuti keinginan si hypnotis atau hipnoterapisnya (orang yang melakukan hypnosis)" jelas Monica.

"Jika ia mengikuti keinginan orang yang menghipnosis, hal ini dapat terjadi karena memang ada kehendak dari si orang yang dihipnosis untuk mengikutinya," tutupnya.

(mrs/up)
News Feed