Sabtu, 21 Jul 2018 05:56 WIB

Tiga Mahasiswa Unair Bikin Alternatif Pendeteksi Kanker dari Pasir Besi

Hilda Meilisa Rinanda - detikHealth
Tiga mahasiswa menciptakan alternatif pendeteksi kanker dari pasir besi (Foto: pribadi) Tiga mahasiswa menciptakan alternatif pendeteksi kanker dari pasir besi (Foto: pribadi)
Surabaya - Tiga mahasiswa S1 jurusan Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) menciptakan alternatif pendeteksi kanker atau contras agent dari bahan baku pasir besi. Inovasi Maulana Muchammad, Danang Pristiono, dan Maria Lucia Veronica Theja ini berawal dari keprihatinan mereka melihat banyaknya penderita kanker di Indonesia.

"Jadi awal mula terbentuknya ide itu, kita kan kayak prihatin sama kondisi tentang kanker yang kurang penanganan terus biaya penanganannya mahal," ujar ketua tim Progam Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE), Maulana kepada detikHealth di Surabaya, Jumat (20/7/2018).

Selain itu, Maulana menemukan, pada beberapa kasus, diagnosis awal kanker dengan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging) masih dirasa kurang akurat dan sensitif sehingga ini berdampak pada pengangkatan sel kanker kurang efektif.

Kalaupun sensitivitasnya ditingkatkan, maka biasanya digunakan contras agent dari cairan magnefis. Namun ini pun masih dianggap memiliki kekurangan, yaitu seringkali bersifat toksik.

"Jadi kalau ndak dibantu contras agent, penanganan kanker itu seringkali salah karena nggak bagus gambarnya dan pengangkatannya sering salah sasaran. Nanti jadi bukan keangkat semua tapi malah menyebar," paparnya.



Untuk itu, Maulana dan timnya melirik pasir besi sebagai bahan utama untuk pembuatan contras agent. Apalagi pasir besi dapat ditemukan dengan mudah di Indonesia tetapi masih jarang dimanfaatkan.

"Jadi kita berupaya untuk membantu meningkatkan deteksi dengan menggunakan contras agent dengan bahan utama pasir besi. Ini sampel yang kami buat ini ketersediaannya di Indonesia sangat banyak tapi minim inovasi," papar mahasiswa semester delapan ini.

Maulana kemudian menjelaskan pasir besi dipilih karena memiliki sifat yang superparamagnetik, yang berarti baik untuk meningkatkan pembacaan dan lebih teliti dalam menilik sel kanker.

"Biasanya pasir kan hanya menjadi bahan konstruksi bangunan. Kalau dilihat dari sifatnya, pasir itu superparamagnetik, maksudnya dia itu baik buat meningkatkan hasil pembacaan dan pembacaan lebih teliti. Jadi pengangkatan kanker itu lebih tepat sasaran," jelas Maulana.

Pasir besi dinilai bisa meningkatkan hasil pembacaan dalam pemeriksaan kanker.Pasir besi dinilai bisa meningkatkan hasil pembacaan dalam pemeriksaan kanker. Foto: pribadi


Berkat bimbingan dosen Andi Hamim Zaidan Ph.D ini, penelitian "Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Magnetik-FA sebagai Contrast Agent Deteksi Kanker pada MRI" milik tim Maulana pun berhasil lolos seleksi dan memperoleh pendanaan riset dari Kemenristekdikti dalam program PKM tahun 2018.

Maulana berharap temuan timnya bisa memberikan kontribusi baru untuk dunia kesehatan Indonesia, terutama dalam memperoleh alternatif penanganan kanker dengan solusi yang lebih murah.

Menariknya, Maulana dan timnya juga memiliki misi khusus untuk meningkatkan harga jual pasir mengingat di Indonesia pasir masih dihargai sangat murah.

"Kita memakai pasir besi ini sebagai bahan dasar, upayanya nanti nilai pasir besi sendiri bisa naik di pasaran. Sehingga Indonesia bisa produksi sendiri bahan yang mestinya kita impor, selain kita jadi negara mandiri di bidang kesehatan," harapnya.

(up/up)
News Feed