Kamis, 09 Agu 2018 15:00 WIB

Karawang Bangun Rumah Sakit Paru dari Dana Cukai Rokok

Luthfiana Awaluddin - detikHealth
Lokasi ground breaking RS Paru Karawang yang dibangun dengan cukai rokok (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikHealth) Lokasi ground breaking RS Paru Karawang yang dibangun dengan cukai rokok (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikHealth)
Karawang - Pemerintah Kabupaten Karawang, Jawa Barat memulai pembangunan rumah sakit khusus pasien paru-paru di Desa Baloggandu, Kecamatan Jatisari. Biaya pembangunan bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT).

"Jadi biayanya bukan dari APBD. Ini dari kucuran dana DBHCT sejak tahun 2012," kata Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana saat ground breaking pembangunan di Jalan Raya Jatisari, Kamis (9/8/2018).

Berdiri di atas lahan seluas 2,2 hektare, rumah sakit tersebut digadang-gadang jadi rumah sakit khusus penyakit paru-paru pertama di wilayah pantura Jawa Barat.

"Mudah-mudahan, rumah sakit ini bisa juga bermanfaat bagi masyarakat Purwakarta, Subang dan Kabupaten Bekasi. Karena Karawang jadi penyangga daerah-daerah tersebut," kata Cellica.

Ia menuturkan, rumah sakit dengan segmen khusus paru-paru amat penting lantaran penyakit pernapasan masih banyak ditemui di masyarakat. Jumlah penderita penyakit ISPA (Infeksi Saluran Penapasan Akut) dan TBC (Tuberkulosis atau TB) misalnya, masih tergolong tinggi. Di Karawang saja, kata dia, tercatat ada sekitar 3.300 penderita ISPA pada tahun 2017. Di 2018, jumlah penderita berhasil ditekan mencapai 1.135.

"Karena itu, saya harap rumah sakit ini bisa selesai tepat waktu, sesuai perencanaan. Sehingga jumlah penderita penyakit paru-paru bisa ditekan secara signifikan," kata dia.



Rumah Sakit Paru Karawang ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2019. Gedung setinggi empat lantai ini bakal dilengkapi fasilitas penunjang lainnya seperti rumah singgah, taman terapi hingga danau retensi.

Berbagai tanaman bakal ditanam di taman terapi supaya pasien bisa menghirup oksigen segar. "Saya harap taman terapi dipisah. Untuk pasien infeksius dengan non infeksius. Supaya pasien lain tidak tertular," kata lulusan Kedokteran Umum Universitas Maranatha itu.

Ia pun menceritakan pengalamannya saat masih menjadi dokter dan berpraktik di RS Paru Rotinsulu Bandung. "Dulu saya sempat praktik di Rotinsulu. Di sana melayani bermacam penyakit paru dari yang akut sampai kanker," kata dia, mengenang masa itu.

Diharapkan RS ini bisa melayani pasien paru di wilayah Pantura Jawa Barat.Diharapkan RS ini bisa melayani pasien paru di wilayah Pantura Jawa Barat. Foto: Luthfiana Awaluddin/detikHealth


Supaya langsung beroperasi, Cellica berharap Dinas Kesehatan bisa segera menyiapkan SDM (Sumber Daya Manusia). Sehingga saat pembangunan selesai, rumah sakit tidak kekurangan dokter dan perawat.

Untuk mengantisipasi keterbatasan jumlah dokter spesialis paru-paru. Cellica mendorong Dinkes untuk segera membuat MOU dengan kampus dan rumah sakit di Bandung hingga Jakarta. "Supaya nanti para dokter spesialis mau berpraktik di Karawang," kata dia.

Cellica juga bakal menjaring calon dokter asal Karawang untuk bisa mengabdi di daerahnya. Caranya dengan mempermudah rekomendasi pendidikan lanjutan spesialis. "Bagi yang mau ambil pendidikan spesialis melalui PPDS, saya akan permudah. Tapi syaratnya balik dan mengabdi ke Karawang," kata dia.

Ironisnya, rokok merupakan faktor risiko utama berbagai jenis penyakit paru.Ironisnya, rokok merupakan faktor risiko utama berbagai jenis penyakit paru. Foto: Luthfiana Awaluddin/detikHealth






Tonton juga 'Rokok Masih Jadi Penyumbang Cukai Terbesar di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
News Feed