Selasa, 18 Sep 2018 15:55 WIB

Dampak Negatif Media Sosial Bisa Picu Seseorang Bunuh Diri

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: istimewa Foto: istimewa
Jakarta - Era media sosial membawa baik dampak positif maupun dampak negatif. Ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika bermain di media sosial, karena rupanya konten atau komentar negatif bisa memicu seseorang untuk bunuh diri.

Kepada detikHealth, dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia (PDSKJI) Jakarta menyebut media sosial sebagai salah satu faktor pemicu. Oleh karena itu pentingnya empati dan tidak cuek terhadap orang lain, baik yang kita kenal maupun tidak, untuk menghindari kemungkinan kita memicu seseorang untuk bunuh diri.

"Makanya harus be kind dan jangan asal jeplak. Itu kenapa perlu empati karena empati mengingatkan kita kalau tidak mau dibegitukan ya jangan perlakukan itu. Karena kita tidak tahu mana orang yang sedang bermasalah, kalau iya bermasalah terus diperlakukan begitu ya iya itu pemicu," tuturnya melalui pesan singkat, Senin (17/9/2018).


Baik dalam kondisi kejiwaan sehat maupun tidak, seseorang rentang mengalami trauma sekunder akibat menyaksikan hal-hal tersebut. Trauma sekunder yang berulang-ulang dapat menyebabkan orang yang semula sehat jiwa, mulai mengalami pemikiran untuk bunuh diri, meningkatkan stres dan depresi, atau efek samping lainnya.

Ditambahkan oleh Benny Prawira, pendiri Komunitas Into The Light Indonesia, bahwa masyarakat seharusnya berhenti untuk memberikan komentar negatif dan lebih memperbanyak konten edukasi pencegahan bunuh diri. Jika ada berita mengenai bunuh diri yang negatif atau eksplisit, sebaiknya tidak ikut meramaikan.

"Yah lagi-lagi masalahnya emang apa yang sudah diajarin sejak kecil itu memang tidak berdasarkan bukti dan kepedulian sesama yah. Tidak ada pengetahuan mengenai literasi kesehatan jiwa dan bunuh diri makanya pas dewasa jadi kokoh dengan apa yang dipercayai dan defensif kalau diberitahu. Kita perlu sejak kecil kasih literasi ini emang," katanya.

Termasuk juga menggunakan konteks candaan, dan merendahkan unggahan seseorang yang curhat ke media sosial terkait keinginan bunuh diri. Benny menegaskan lagi bahwa bukan berarti segala hal dapat diunggah ke media sosial tanpa memikirkan konsekuensinya terhadap orang lain.

Penyebaran konten juga dapat memicu bunuh diri tiruan (copycat suicide). Informasi bunuh diri yang terlalu mendetail seperti ciri-ciri orang, asumsi penyebab, dan metode yang jelas, dapat mendorong orang yang sedang depresi, memiliki masalah pribadi, atau memiliki pemikiran bunuh diri, untuk ikut melakukan bunuh diri.


Pemberitaan bunuh diri harusnya menjadi momentum untuk mengundang orang-orang yang memiliki pemikiran bunuh diri atau depresi untuk mencari pertolongan kepada orang terdekat atau menghubungi tenaga profesional kesehatan jiwa.

"Di media sosial juga ada aturan kok untuk tidak ada konten terkait bunuh diri, termasuk joke. Jadi yah mereka yang langgar aturan ini bisa direport sebagai konsekuensi langgar aturan komunitas medsos. Justru yang sering pakai medsos buat jokes bunuh diri yg tidak baca aturan dan ketentuan pemakaian medsos," tandasnya.

Jika menemukan konten bunuh diri yang terlalu eksplisit di media sosial, kita bisa melakukan hal-hal berikut:

1. Segera laporkan konten tersebut untuk dihapus.

2. Hentikan penyebaran informasi terkait orang yang bunuh diri. Izinkan keluarga yang ditinggalkan untuk berduka, tanpa harus dihantui stigma.

3. Hentikan penyebaran foto atau video yang dapat menimbulkan kehendak bunuh diri pada orang depresif. Jangan sebarkan jika kita menerimanya, dan ingatkan teman-teman kita di media sosial untuk berhati-hati saat menerima foto atau video tersebut.

4. Tahan segala macam komentar negatif dan asumsi mengenai kasus bunuh diri tersebut. Komentar dan asumsi negatif di media sosial yang dibaca oleh orang dengan kecenderungan bunuh diri dan depresi akan membuat mereka enggan mencari bantuan.

(frp/fds)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya