Senin, 24 Sep 2018 15:19 WIB

Ada Pengeroyokan, Bukan Ditolong Kok Malah Divideoin?

Christantio Utama - detikHealth
Selalu ada yang memvideokan aksi kekerasan, dan tak berdaya memberikan pertolongan (Foto: GettyImages) Selalu ada yang memvideokan aksi kekerasan, dan tak berdaya memberikan pertolongan (Foto: GettyImages)
Jakarta - Tersebarnya video pengeroyokan yang melibatkan oknum bobotoh Persib Bandung mengundang perhatian banyak orang. Alih-alih menolong korban kekerasan tersebut, seseorang justru merekam video aksi biadab tersebut.

Ini terjadi dalam peristiwa tragis di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Bandung, Jawa Barat. Seorang suporter Persija, Haringga Silira, tewas mengenaskan karenanya.

Menurut psikiater dari Omni Hospital Alam Sutera, Tangerang Selatan, dr Andri, SpKJ, inisiatif memvideokan bisa dilatarbelakangi oleh banyak kemungkinan. Salah satunya, mungkin situasi tidak memungkinkan untuk memberikan pertolongan.

"Saya rasa dia yang merekam kejadian tersebut juga takut kalau menolong. Karena kan amuk massa yang seperti itu bila berbuat sesuatu yang di luar daripada kondisi yang terjadi malah kita yang kadang-kadang terkena," jelas dr Andri.



Masih menurut dr Andri, perilaku seseorang ketika berada dalam kerumunan juga dipengaruhi oleh fungi 'otak primitif'. Dijelaskan olehnya, otak tersebut lebih dipengaruhi oleh emosi dibandingkan neo-cortex yang bekerja lebih logis dan rasional.

"Pada saat kondisi massal tersebut seringkali otak kita yang berperan adalah otak yang bersifat reaktif atau primitif," kata dr Andri.

(up/up)
News Feed