Selasa, 25 Sep 2018 14:00 WIB

Dokter Paru Sebut BPJS Kesehatan 'Tekor' Justru karena Rokok

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kampanye iklan antirokok di TransJ (Lukita-detikcom) Kampanye iklan antirokok di TransJ (Lukita-detikcom)
Jakarta - Banyak perokok yang merasa jadi 'pahlawan' karena cukai yang dibayarkan dipakai untuk menambal defisit BPJS Kesehatan. Menurut dokter paru, merokok justru merupakan pemicu timbulnya berbagai macam penyakit yang membuat dana kesehatan membengkak.

Menurut ahli hipertensi paru dari RS Harapan Kita Prof Dr dr Bambang Budi Siswanto, SpJP(K), Fascc, FAPSC, FACC, besarnya biaya pengobatan akibat merokok bisa digunakan untuk keperluan lain. Salah satunya membantu pembiayaan penyakit bawaan seperti lupus, psoriasis, hipertensi paru yang stok obatnya masih sulit didapatkan sehingga biaya pengobatan menjadi mahal.

"Yang ngerokok itu harusnya ga dapat BPJS. Coba cek itu penyakit yang paling banyak makan dana BPJS dari jantung, paru-paru. Semuanya gara-gara apa? Ya kebiasaan merokok," ujarnya.



Lebih lanjut, dr Bambang menyarankan untuk lebih aware mengenai bahaya dari merokok. Selain merugikan diri sendiri, kebiasaan ini juga merugikan orang lain dan negara.

"Kan jadi kasihan sama penderita lain yang lebih membutuhkan bantuan. Mereka jadi kurang penanganan dari pemerintah. Dokter juga jadi susah sendiri kalau menangani pasien dengan kebiasaan merokok. Karena kebanyakan kalau sudah sembuh, balik lagi (merokok)," jelasnya.

Dokter Paru Sebut BPJS Kesehatan 'Tekor' Justru karena Rokok




Saksikan juga video 'BPJS Kesehatan Defisit, Komisi IX: Tenaga Medis Telat Digaji':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)
News Feed