Apakah kenyataannya demikian? Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 melihat justru kebalikannya. Prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) justru lebih tinggi di antara masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.
Sebagai perbandingan masyarakat kelas ekonomi atas memiliki prevalensi PJK sekitar 1,2 persen sedangkan masyarakat kelas bawah mencapai 2,1 persen. Lebih rinci dilihat dari pekerjaan prevalensi PJK sekitar 0,9 persen pada pegawai, 1,2 persen pada wiraswasta, dan 1,6 persen pada petani/nelayan/buruh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Bambang Dwi Putra, SpJP, dari RS Pusat Jantung Harapan Kita menjelaskan fenomena ini terjadi karena berbagai faktor. Penyakit jantung itu bisa disebabkan banyak hal selain kolesterol salah satunya yaitu rokok.
"Ini berhubungan dengan gaya hidup. Merokok itu populasi yang paling besar ya kelas menengah ke bawah," kata dr Bambang dalam acara Peringatan Hari Jantung Sedunia di Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (28/9/2018).
Rokok dalam berbagai studi ditemukan dapat berkontribusi terhadap penyakit jantung karena membuat pembuluh darah menyempit. Ketika pembuluh darah yang menyempit itu tersumbat maka terjadilah serangan jantung.
Hal lainnya yang juga bisa membuat masyarakat kelas menengah ke bawah rentan terhadap penyakit jantung menurut dr Bambang adalah tekanan psikis karena beban ekonomi. Saat seseorang mengalami stres berkepanjangan maka dirinya akan lebih rentan mengalami hipertensi yang juga berkontribusi terhadap sakit jantung.
"Stres psikologis. Beban ekonomi itu kan bikin stres jadi kaya lingkaran setan aja. Harus dipecah diputus," lanjut dr Bambang.
Tonton juga 'Galau Bisa Memicu Penyakit Jantung? Ini Jawabannya!':
(fds/up)











































