Senin, 01 Okt 2018 19:02 WIB

Relawan, Juru Negosiasi di Tengah Kepanikan Korban Bencana

Roshma WIdiyani - detikHealth
Negosiasi, jadi cara relawan untuk menjembatani kebutuhan korban dan para memberi dukungan. Foto: Pradita Utama
Jakarta - Menjadi relawan tak melulu soal menyalurkan bantuan atau menangani korban bencana alam. Kerja yang mengatasnamakan kemanusiaan ini, ternyata punya seninya sendiri. Salah satunya seni negosiasi alias tawar menawar dengan masyarakat.

Sudah jadi pengetahuan umum, bahwa perilaku manusia menjadi lebih agresif saat berada dalam tekanan. Di momen inilah relawan tampil menjembatani masyarakat dan penyedia bantuan dari unsur swasta maupun negara.

"Yang tampil bernegosiasi harus relawan jangan dari pemerintah atau perusahaan," kata Vice Presiden dan relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khadjar, Senin (1/10/2018).

Menurut pengalaman Ibnu, korban bencana alam bersikap lebih lembut kepada relawan. Mereka tidak agresif seperti saat menghadapi berbagai unsur pejabat. Kelebihan ini dimanfaatkan untuk mengambil hati, sekaligus menenangkan masyarakat. Tentunya, relawan juga menyusun kesepakatan terkait penyaluran bantuan.

Ibnu mencontohkan pengalamannya menangani bencana di Lombok, NTB. Sama seperti di Palu dan Donggala, masyarakat bertindak agresif untuk memenuhi kebutuhan logistiknya. Pada saat tersebut, relawan bersama unsur TNI menenangkan masyarakat terlebih dulu. Selanjutnya, relawan dan masyarakat sepakat bantuan hanya akan diberikan jika suasana lebih kondusif.


Hasil negosiasi menjadi titik awal proses rehabilitasi korban bencana. Relawan akan menjadikan lokasi tersebut titik pendirian posko, dapur umum, dan tempat strategis lainnya. Sesuai kesepakatan, relawan baru akan datang lagi dalam 2 atau 3 hari. Selama periode tersebut, masyarakat bisa mengatur sendiri pemenuhan kebutuhannya.

Meski tampil sebagai ujung tombak, kesuksesan negosiasi relawan ditentukan dua hal. Yaitu, keterlibatan TNI dan karakter masyarakat. Ibnu mengatakan, masyarakat umumnya tak banyak berkutik jika unsur TNI sudah turun tangan. Penyaluran dan pemerataan bantuan menjadi lebih efisien dengan kehadiran TNI.

Masyarakat dengan karakter tenang, tidak mudah terprovokasi, dan memegang teguh agama biasanya juga lebih mudah diatur. Ibnu tak memungkiri jika warga Palu memiliki karakter yang berbeda dengan Lombok. Namun dia yakin perbedaan karakter ini bisa dijembatani dengan keseriusan relawan dan pemerintah menangani bencana.

(Roshma WIdiyani/up)