"Saya sangat terusik karena Ibu Ratna pribadi yang saya kenal cukup lama, beliau selama ini ibu yang terkenal selalu menolong orang susah, orang tertindas, orang miskin. Saya hormat dengan beliau, saya sangat sayang pada beliau sebagai pribadi," ujar Prabowo, dikutip detikNews.
Lantas, apa yang bisa membuat seseorang tertipu? Dikutip dari Business Insider, Dr Michael Shermer penulis 'Why People Believe Weird Things' menjelaskan beberapa faktornya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesederhanaan kognitif (simplicity cognitive)
|
Foto: thinkstock
|
Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita memproses dan memahami pernyataan, otak kita secara otomatis menerimanya sebagai benar, sedangkan skeptisisme berikutnya dari pernyataan itu membutuhkan langkah kognitif ekstra, yang merupakan beban yang lebih berat untuk diproses. Lebih baik udah deh, move on.
Disonansi kognitif
|
Foto: Getty Images
|
Disonansi kognitif adalah ketegangan tidak nyaman yang datang dari memiliki dua pemikiran yang saling bertentangan pada saat yang bersamaan. Lebih mudah untuk membantah fakta daripada mengubah keyakinan terdalam seseorang.
Efek Bumerang
|
Foto: thinkstock
|
Ketika menghadapi bukti yang kontradiktif, keyakinan yang dipercaya tidak berubah tetapi justru menjadi lebih kuat. Efeknya telah ditunjukkan secara eksperimental dalam tes psikologi, di mana subjek diberi data yang memperkuat atau bertentangan dengan bias yang ada.
Karena kesatuan
|
Foto: thinkstock
|
Manusia adalah mahluk sosial dan ingin menunjukkan bahwa manusia dapat dipercaya sebagai anggota kelompok yang dapat diandalkan. Ini berarti konsisten dalam setuju dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita, misalnya berasal dari kelompok yang sama, atau lingkaran pertemanan yang sama.
Halaman 2 dari 5











































