AC Milan sukses menjadi pemenang di laga derby della madonnina atas rivalnya, Inter Milan, Senin (9/3/2026) dini hari WIB. Meskipun gol tunggal dicetak oleh Pervis Estupinan, di laga ini, Luka Modric juga mampu mencuri perhatian.
Di usianya yang menginjak 40 tahun, maestro lini tengah asal Kroasia tersebut masih mampu tampil kompetitif di Serie A. Terlebih pada laga derby klasik Italia yang membutuhkan kebugaran ekstra.
Bermain 90 menit, gelandang veteran ini memainkan peran stabil di lini tengah. Ia tidak terlalu mencolok, tetapi tetap menjadi bagian penting dari ritme permainan I Rossoneri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Metode Micro-Dosing
Dilansir dari Gazeta, kunci kebugaran sang maestro salah satunya adalah metode latihan bernama 'micro-dosing', yakni olahraga dengan dosis kecil menggunakan elastic band atau karet elastis yang dilakukan sepanjang hari.
Sosok di balik metode latihan ini adalah profesor asal Kroasia bernama Vlatko Vucetic. Berangkat dari masalah teknis Modric yang sebelumnya hanya kuat bermain dengan intensitas tinggi selama kurang lebih 65 menit.
Hubungan antara dia dan Modric dimulai lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika pemain sepak bola itu mengunjungi pusat diagnostik olahraga Fakultas Kinesiologi di Zagreb, yang dikelola oleh Vucetic.
Program ini dibagi menjadi beberapa sesi: satu bagian di pagi hari, satu bagian sebelum latihan, satu bagian setelah latihan, dan terkadang bahkan di malam hari.
Sekitar 80 persen latihan menggunakan elstic band, bertujuan meningkatkan kekuatan, elastisitas, dan mencegah cedera. Rutinitas ini dilakukan Modric setiap hari.
Menurut Vucetic, tindakan preventif yang konsisten dilakukan Modric setiap hari merupakan rahasia di balik masih kompetitifnya eks pemain Real Madrid itu hingga hari ini.











































