Selasa, 09 Okt 2018 19:18 WIB

Terkait Unsur Babi, Sebagian Warga Pekanbaru Masih Menolak Vaksin MR

Chaidir Anwar Tanjung - detikHealth
Ilustrasi vaksin difteri (Foto: Lamhot Aritonang) Ilustrasi vaksin difteri (Foto: Lamhot Aritonang)
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR
Pekanbaru - Kementerian Kesehatan RI masih memperpanjang waktu program imunisasi campak/rubella (MR) di Riau. Namun sebagian warga masih menolak vaksin dengan alasan belum halal.

Pelaksanaan program vaksin MR ini kembali dibuka, Selasa (9/10/2018) di Pekanbaru. Kota Pekanbaru termasuk salah satu pencapaian terendah dalam vaksin MR. Imunisasi kali ini dilaksanakan di SD Negeri 55 Kecamatan Rumbai, Pekanbaru.

"Hari ini vaksin MR kembali dilaksanakan setelah sempat tertunda. Saya prihatin masih jauh pencapaian ini masih jauh yang diharapkan. Saya terus melakukan pendekatan ke kepala daerah, MUI demi tercapainya imunisasi MR di Riau ini, kata Kadis Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir.

Mimi menjelaskan, vaksin MR ini diperuntukkan bagi anak usia 9 bulan hingga 15 tahun. Namun upaya vaksin seluruhnya masih banyak mendapat penolakan. Sehingga pencapaian di Riau masih rendah yaitu 32,4 persen.

"Posisi Riau urutan ketiga terendah dari pencapaian nasional, 38,45 persen. Bahkan tiga dari 12 kabupaten dan kota, masih sangat jauh target 95 persen. Terendah kota Dumai, 4,4 persen, Siak 16,16 persen, dan Pekanbaru 19,31 persen," kata Mimi.



Diharapkan, dengan imunisasi tahap terakhir ini bisa menambah pencapaian yang diharapkan. "Dengan demikian, anak-anak kita terlindungi dari bahaya penyakit campak dan rubella," kata Mimi.

Walau program lanjutan ini akan berakhir bulan ini, namun tak semua masyarakat di Pekanbaru mendukung pelaksanaan itu. Terlebih, hasil uji lab MUI (Majelis Ulama Indonesia) menyatakan bahwa vaksin MR dalam produksinya bersinggungan dengan unsur babi. Namun MUI sebenarnya sudah mengeluarkan fatwa mubah, yang artinya vaksin tersebut boleh digunakan karena dalam kondisi mendesak dan belum ada penggantinya.

"Mohon maaf, tak mengizinkan anak saya divaksin Babi. Kalau pendapat kita berbeda dengan yang lain, itukan hak saya juga," kata Zulaini seorang ibu rumah tangga warga Pekanbaru.

Berbeda lagi pengakuan orang tua lainnya. Hisba Amril mengungkapkan, sekitar satu setengah bulan yang lalu, dia menerima surat pernyataan dari sekolah anaknya untuk vaksin MR.

"Anak saya bawa surat persetujuan dari sekolahnya. Saya menolak untuk melakukan vaksin itu. Maaf, vaksin MR bahan dasarnya dari Babi," ungkap Hisba.

Berbagai alasan soal haram inilah, yang membuat program vaksin MR di Riau diperpanjang kembali oleh pemerintah. Pencapaian di Riau masih sangat rendah. Hingga sekarang, masih terus terjadi penolakan dari masyarakat.





Tonton juga 'Apa Risiko Saat Bunda Menolak Imunisasi untuk Anak?':

[Gambas:Video 20detik]

(cha/up)
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR
News Feed