Rabu, 19 Sep 2018 11:00 WIB

Soal Kedaruratan Vaksin MR, Menkes: Tidak Boleh Egois!

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Kunjungan Menkes ke Bio Farma, beberapa waktu lalu. Foto: Tri Ispranoto Kunjungan Menkes ke Bio Farma, beberapa waktu lalu. Foto: Tri Ispranoto
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR
Jakarta - Vaksin MR (Maesles Rubella) atau vaksin campak rubella produksi Serum Institute of India (SII) diperbolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) berdasarkan Fatwa MUI nomor 33 tahun 2018. Hal ini dikarenakan hukum kedaruratan yang terjadi.

Sedarurat apa? Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, MUI, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, serta PT Biofarma, Tbk, melakukan konferensi pers mengenai hal tersebut, Selasa (18/9/2018), di Aula Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) RI, Jakarta Pusat.

Mengulik berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia masuk dalam daftar 10 besar negara dengan jumlah campak terbesar di dunia. Artinya campak sendiri suatu isu yang ada di sekitar kita. Namun banyak orang yang memahami kedaruratan tersebut karena berada di sekitar orang yang memang sehat meskipun pada nyatanya ada orang yang terkena rubella namun tidak terpublikasi.



"Misalnya anak saya kena rubella, kemudian mendekati ibu, saya kan gapapa, tapi ibu yang terkena. Darurat bukan di diri kita saja. Ingat Asmat dong, begitu banyak korban, daerahnya sulit dan berapa ratus yang meninggal. Kita tidak boleh egois sendiri," kata Nila.

Menurut Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, dengan pencapaian imunisasi hingga 95 persen diharapan terjadinya kekebalan kelompok. Nah, dari Bio Farma, M Rahman Roestan menjelaskan mengenai kekebalan kelompok itu.

"Ketika banyak yang tidak diimunisasi maka akan terserang penyakit di banyak orang. Ketika banyak yang sudah diimunisasi ada yang terkena infeksi ini tidak menyebar. Banyak yang bilang 'saya tidak diimunisasi saya sehat' itu karena sekelilingnya diimunisasi, inilah kekebalan kelompok," jelasnya.

Sementara dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf Amin, ia menjelaskan bahwa pihak MUI bukanlah yang mengatakan suatu kedaruratan. Hanya saja, dari penjelasan Kemenkes ia meyakinin bahwa campak rubella adalah kondisi yang darurat.

"Kemenkes yang memberitahu ke MUI ini kondisinya darurat, sekarang percaya atau tidak? Saya kira dalam bermasyarakat, berbangsa, ada kompetensi yang mengatakan bahaya atau tidak, bukan kita sendiri tapi Kemenkes yang ada ukuran-ukuran. Ketika bahaya, itu harus dicegah," ujarnya.



Saksikan juga video 'Bicara Soal Vaksin Palsu Ala 20Detik':

[Gambas:Video 20detik]

(ask/up)
Topik Hangat Fatwa Mubah Vaksin MR
News Feed