Sabtu, 13 Okt 2018 08:57 WIB

Workaholic: Gila Bekerja Tak Membuatmu Jadi 'Expert'

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Pernahkah kamu temui seseorang yang sangat gila bekerja alias workaholic? Yakni orang-orang yang menghabiskan hidupnya seakan-akan hanya untuk kerja dari pagi hingga malam. Tak hanya itu, kadang kita juga sering dinilai lewat seberapa sukses, produktif dan sibuknya kita.

Malissa Clark dari University of Georgia mendefinisikan gila bekerja sebagai "dorongan batin untuk bekerja yang membuat seseorang merasa mereka selalu 'seharusnya' bekerja". Ia menyebut mereka yang gila bekerja selalu merasa cemas atau bersalah saat mereka tidak bekerja, terus-menerus memikirkan pekerjaan dan sering lembur.

Apa bedanya seseorang yang bekerja keras dengan orang yang gila bekerja?

"Tergantung dari motivasinya. Beberapa orang bekerja keras karena faktor eksternal, misal sedang butuh uang. Namun hal tersebut tidak merefleksikan gila bekerja. Jika seseorang bekerja keras karena mereka mencintai pekerjaan tersebut, itu namanya work engagement. Namun jika mereka bekerja karena mereka merasa seharusnya mereka bekerja, itu baru gila bekerja," kata Dr Clark, dikutip dari ABC Net.


Beberapa studi menunjukkan mereka yang perfeksionis cenderung menjadi gila bekerja. Dan juga cenderung bekerja dalam waktu yang lama, alias lembur. Dr Clark mengatakan bahwa tidak ada kaitannya jadi gila bekerja dengan produktivitas yang semakin baik, seperit yang banyak orang kira, dan juga tak membuat semakin bahagia.

Salah satu studi pada mereka yang workaholic mengungkapkan adanya kaitan dengan hasil yang negatif bagi mereka sendiri, keluarga dan kesehatan mereka secara umum. Hal ini juga diungkapkan oleh Tilly, seorang produser berusia 25 tahun yang mengaku ia merasa sangat kecanduan bekerja.

"Aku memikirkan pekerjaan dari sejak aku bangun tidur dan tak berhenti hingga aku mengecek email sebelum tidur. Dan aku selalu berpikir bahwa aku tak cukup dan harus bekerja lebih. Ada juga tekanan internal merasa wajib untuk terus bekerja. Aku senang jika dilihat sebagai peraih tertinggi, tapi pada saat yang sama, aku merasa masih kurang cukup. Aku berharap aku tak merasakan seperti itu," katanya.

Jika kamu merasakan dirimu jadi kecanduan bekerja, mungkin kamu bisa mencoba cara-cara untuk menghilangkan perilaku tersebut. Misalnya dengan membatasi diri tidak mengecek email sebelum jam kerja dan setelah jam kerja atau menjadikan hari Minggu sebagai hari detoks digital untuk menjauhkanmu dari kegiatan terkait pekerjaan dan juga paparan layar digital.

Tilly mencoba dengan memberi batasan telah membantunya lepas dari kecanduan bekerja dan juga berpikir mengapa ia harus bekerja di luar jam kerjanya. "Sekarang aku berpikir ke diriku sendiri 'Mengapa aku melakukan ini?' apakah karena aku ingin atau aku merasa aku harus? Dan hal ini membantuku untuk tak lagi memikirkannya," tandasnya.

(frp/up)