Senin, 15 Okt 2018 19:01 WIB

Saran Psikolog Agar Remaja Tak Gampang Di-bully

Hilda Meilisa Rinanda - detikHealth
Ilustrasi korban bullying (Foto: Thinkstock) Ilustrasi korban bullying (Foto: Thinkstock)
Surabaya - Sebagai remaja ternyata penting untuk memiliki kondisi psikologis yang lebih fleksibel agar tak rentan untuk dibully. Karena, salah satu faktor bullying bisa terjadi akibat dari kecenderungan diri sendiri yang memancing orang lain untuk membully.

"Satu lagi kalau remaja sekarang saya melihatnya ada satu hal yang perlu banget diperbaiki adalah tentang psychological flexibility. Remaja itu perubahannya banyak, jadi karena perubahannya banyak dia harus jauh lebih fleksibel daripada usia yang lain, jangan baperan jadinya," pesan salah satu psikolog, Atikah Dian Ariana, Senin (15/10/2018).

Atikah memaparkan ada teori viktimisasi, jika dikaitkan dengan bullying, teori ini bisa berarti seseorang secara tidak langsung dapat memancing orang lain untuk membully dia.

"Kadang-kadang bully itu juga terjadi karena kalau secara teori ada namanya viktimisasi, jadi ada orang yang secara tidak langsung memancing orang lain untuk membully dia," ungkap Atikah.

Biasanya, hal ini ditandai dengan remaja tersebut yang nampak lemah dibanding orang lain hingga mudah terbawa perasaan dalam konteks bercanda. Hal ini bisa memicu orang-orang yang memiliki kecenderungan membully untuk melakukan bullying terhadapnya.

"Karena dia nampak lemah,dia mudah menangis, dia mudah baper ketika mendapatkan respon. Nah orang yang punya kecenderungan untuk membully melihat itu, akhirnya tertarik untuk melakukan bullying. Jadi be fleksibel di usia remaja," paparnya.



Saat ditanya bagaimana untuk menjadi remaja yang lebih fleksibel, Atikah memiliki berbagai tips. Baginya, yang paling penting remaja harus mengenali dirinya sendiri. Jika remaja paham akan dirinya, dia akan bersikap lebih luwes.

"Kenal dengan diri sendiri dulu, itu pasti, jadi dia tahu batasnya sehingga kita bersikap luwes, kita juga tidak menjadi orang yang memaksakan diri sendiri. Ketika memang tidak nyaman dengan suatu situasi, kita boleh kok menarik diri dari situ, jadi tidak harus memaksakan," imbuhnya.

Selain itu, menjadi remaja bukan berarti segala hal harus tercapai. Untuk itu, remaja tak perlu memaksakan diri meraih sebuah keinginan tersebut.

"Yang kedua pahami apa yang kita pikirkan, karena tidak harus menjadi 'sesuatu'. Misalnya kita ingin seperti orang itu, itu keinginan diterima sebagai keinginan, tetapi tidak perlu memaksakan diri," pungkasnya.

(up/up)
News Feed