Senin, 22 Okt 2018 18:17 WIB

Siksa Psikologi Ruang Isolasi, Tempat Tewasnya Bos Kartel Narkoba Makassar

Rosmha Widiyani - detikHealth
Bos kartel narkoba Makassar Daeng Ampuh. Foto: Daeng Ampuh (topik/detikcom) Bos kartel narkoba Makassar Daeng Ampuh. Foto: Daeng Ampuh (topik/detikcom)
Jakarta - Bos kartel narkoba di Makassar Daeng Ampuh ditemukan tewas di kamar sel isolasi LP Makassar, Sulawesi Selatan pada Senin (22/10/2019). Selama di ruang isolasi, petugas memborgol kaki dan tangan terpidana kasus pembunuhan dengan vonis 12 tahun penjara ini. Daeng Ampuh tewas akibat bunuh diri dengan melilitkan borgol di lehernya.

Penghuni ruang isolasi harus beraktivitas sendiri karena terpisah dengan komponen masyarakat lain di penjara. Segala keterbatasan dan kesendirian di ruang isolasi berisiko mengganggu kesehatan mental penghuninya.

"Mereka yang menghuni ruang isolasi menunjukkan perasaan sedih, tidak berdaya, serta depresi yang kronis dan berlebihan. Penghuni ruang isolasi juga merasa paranoid, gelisah, dan takut pada orang atau lingkungan sekitar sebelum kehilangan kesadaran serta harus membayar mahal. Saat ini, angka penghuni ruang isolasi yang bunuh diri menjadi yang tertinggi dibanding unit lain dalam penjara," kata psikolog sosial Craig Haney dikutip dari The Guardian.


Pernyataan Haney didukung riset di penjara Pelican Bay, North Carolina pada 1993. Dalam riset tersebut, siksa psikologi di ruang isolasi memicu munculnya ketidakseimbangan mental. Kondisi ini antara lain hipersensitifitas terhadap rangsang dari luar, halusinasi, serangan panik, dan penurunan fungsi kognitif. Hal lain yang patut jadi catatan adalah kegelisahan, gugup, marah, takut, pusing, tidak bisa tidur, peningkatan detak jantung, dan tangan berkeringat para penghuni ruang isulasi.

Hingga saat ini ruang isolasi masih digunakan dalam komplek penjara di Indonesia. Ruang isolasi dianggap efektif mendisiplinkan penghuni penjara yang ketahuan terlibat aktivitas kriminal geng, rasis, dan narkoba. Sebagian komplek penjara menjadikannya tempat transit sebelum pelaksanaan hukuman mati.

(Rosmha Widiyani/up)
News Feed