Menurut Johannes Eichstadedt dari University of Pennsylvania, orang-orang yang mengalami depresi lebih banyak menggunakan kata 'saya', juga kata yang mencerminkan kesedihan, kesepian, atau permusuhan.
"Kami mengamati bahwa pengguna yang pada akhirnya memiliki depresi menggunakan lebih banyak kata ganti orang pertama tunggal, menunjukkan keasyikan dengan diri sendiri," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam observasi tersebut, kata-kata seperti air mata, menangis, sakit, rindu, benci dan 'ugh', lebih umum di posting oleh para pasien yang memiliki track record depresi.
Selain Facebook, kelompok peneliti lain melaporkan pada tahun 2017, pengguna Instagram yang mengalami depresi cenderung mem-posting gambar dan foto dengan tema hitam-putih.
"Pengembang dan pembuat kebijakan aplikasi hendaknya perlu mengatasi tantangan mengenai penerapan algoritma tertentu yang mampu mendeteksi postingan media sosial yang kiranya memicu depresi sehingga mereka bisa mendapatkan perawatan," pungkasnya.
Sampai saat ini, kasus bunuh diri akibat depresi masih sering dijumpai. Oleh sebab itu, ada baiknya untuk lebih peka terhadap mereka yang terdeteksi mengalami depresi agar mendapatkan penanganan lanjutan.











































