Rabu, 24 Okt 2018 14:01 WIB

Hati-Hati Masuk Angin, Penyakit Langganan Perubahan Musim

Rosmha Widiyani - detikHealth
Ilustrasi masuk angin. Foto: thinkstock
Jakarta - Beberapa hari terakhir, warga Jabodetabek mungkin mulai merasakan perubahan musim. Udara terasa panas pada pagi menjelang siang, yang berubah menjadi mendung dan hujan deras pada sore menjelang malam.

Musim pancaroba identik dengan penurunan kondisi badan hingga menjadi masuk angin. Kondisi ini diartikan sebagai sekumpulan gejala yang terjadi saat kondisi tubuh menurun, salah satunya akibat infeksi virus. Dikutip dari Time, masuk angin lebih kerap terjadi saat udara menjadi lebih dingin.


"Saat terpapar infeksi, tubuh merespon dengan memproduksi interferon untuk menghalangi kerja virus. Pengurangan suhu minimal 4-7 derajat Celcius mengurangi kemampuan daya imun tubuh, yang berefek pada mudahnya virus menggandakan diri," kata ahli immunobiology dari Yale School of Medicine Akiko Iwasaki.

Kerja sistem imun bisa dianggap dobel ketika suhu menjadi lebih dingin. Selain menghalangi kerja virus, imun juga harus melindungi saluran udara dan hidung. Perubahan tekanan udara, suhu, dan angin bisa mengganggu kerja sistem pernapasan.

Masuk angin bisa dicegah dengan menghambat infeksi virus ke dalam tubuh. Misalnya cuci tangan sebelum dan setelah beraktivitas, menjaga suhu tubuh tetap hangat, dan mencukupi asupan nutrisi tubuh. Hal ini akan meringankan kerja sistem imun melindungi tubuh dari infeksi penyakit.





Tonton juga 'Masuk Angin atau Gejala Sakit Jantung? Ini Bedanya!':

[Gambas:Video 20detik]

(Rosmha Widiyani/fds)