Kamis, 01 Nov 2018 16:53 WIB

Ngaku Depresi, Sudah Periksa Belum? Awas, Self Diagnosis Bisa Bahaya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Self diagnosis bisa berbahaya. (Foto: thinkstock) Self diagnosis bisa berbahaya. (Foto: thinkstock)
Jakarta - Semua orang tentu ingin merasa sehat secara fisik dan psikis. Tapi saat ini banyak masyarakat khususnya milenial yang memiliki kecenderungan untuk mendiagnosa diri sendiri ketika mereka menduga mengalami masalah kejiwaan.

"Kecenderungannya itu (self diagnosis) ke arah bahaya. Misal baca nih di google kayak gejala atau ciri depresi terus merasa 'wah ini gue semua nih', lalu dia mempercayai bahwa dirinya depresi dan bilang sama semua orang bahwa dia depresi itu efeknya serius," tutur Retha Arjadi, MPsi, psikolog dari UNIKA Atma Jaya pada Kamis, (1/11/2019).
Kalau seseorang meyakini bahwa dia depresi bisa jadi merusak hubungan sama dirinya sendiri, dengan orang lain, jadi sangat tidak disarankan,Retha Arjadi, MPsi - Psikolog UNIKA Atma Jaya


Kalimat seperti 'duh gue depresi nih', atau 'saya punya masalah kejiwaan' tentu sangat berbahaya apalagi ketika tidak ada acuan dasar dan hanya mengandalkan mesin pencari.

"Kalau seseorang meyakini bahwa dia depresi bisa jadi merusak hubungan sama dirinya sendiri, dengan orang lain, jadi sangat tidak disarankan," tambahnya.

Retha menambahkan, self diagnosis mungkin bisa membantu untuk mendeteksi gejala awal. Tetapi kalau tidak pernah bicarakan atau konsultasi dengan ahli akan bisa berbahaya.

"Artinya kalau misal hanya ingin melihat gambaran umumnya ya boleh, tapi kalau sudah masuk ke diagnosis harus ke ahli. Misal ke psikolog atau psikiater," tutupnya.

(up/up)
News Feed