Sabtu, 03 Nov 2018 15:30 WIB

Takotsubo, Sindrom 'Patah Hati' Saat Ditinggal yang Terkasih

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Foto: Getty Images
Jakarta - Seabad yang lalu, seorang ilmuwan bernama Karl Pearson sedang mempelajari batu nisan saat ia menyadari ada satu hal unik: suami dan istri sering meninggal dalam jarak satu tahun. Banyak studi kini menunjukkan bahwa stres dan keputusasaan secara signifikan mempengaruhi kesehatan, terutama pada jantung.

Seperti misalnya Takotsubo cardiomyopathy atau sindrom patah-hati, yang terjadi saat pasangan seseorang meninggal, kekhawatiran finansial atau kejadian-kejadian emosional lainnya yang sangat melemahkan jantung. Kondisi ini menyebabkan gejala yang menyerupai serangan jantung. Beban emosional ini mengubah bentuk jantung seperti pot tradisional Jepang yang bernama Takotsubo yang memiliki leher pendek dan bagian bawah yang lebar.

"Penyebab tepatnya tidak diketahui, tetapi para ahli berpikir bahwa hormon stres yang melonjak (misalnya, adrenalin) pada dasarnya 'menyulut' jantung, memicu perubahan pada sel otot jantung atau pembuluh darah koroner (atau keduanya) yang mencegah ventrikel kiri berkontraksi secara efektif," seperti dikutip dari situs Harvard Health Publishing, Harvard Medical School.

Seorang ahli jantung, Dr Sandeep Jauhar, menyebutkan walau inovasi penanganan jantung semakin maju dan baik, namun bidang kardiologi tetap butuh perhatian lebih pada faktor risiko lain yang dapat mempengaruhi penyakit jantung.

Kebanyakan orang hanya mengetahui faktor risiko seperti merokok atau kolesterol dan tekanan darah tinggi. Namun ada kemungkinan faktor risiko psikososial seperti hubungan yang tak bahagia, kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan stres bekerja.



Dr Jauhar sendiri tertarik dengan cara kerja jantung usai melihat kakeknya yang mati mendadak akibat ketakutan melihat ular kobra hitam di India, yang lalu menyebabkannya terkena serangan jantung. Hingga akhirnya jantungnya sendiri terdeteksi memiliki penyumbatan di arteri koroner saat memindai jantungnya menggunakan CT angiogram.

Ia mengaku sangat bingung dan terpukul membaca hasil ulasan kesehatan jantungnya sendiri. Dr Jauhar cukup rutin berolahraga dan gaya hidupnya sangat sehat, bahkan di usia 45 tahun saat itu. Rupa-rupanya stres bekerja menjadi salah satu penyebabnya.

"Beberapa studi telah mengungkapkan bahwa orang-orang yang merasa terisolasi secara sosial atau alami stres kronis akibar bekerja atau hubungan lebih sering terkena serangan jantung dan stroke. Sebaiknya para tenaga kesehatan harus mencantumkan stres emosional sebagai faktor risiko kunci yang bisa diubah pada penyakit jantung," tuturnya, dikutip dari Washington Post.

Sayangnya, memang lebih mudah untuk fokus pada kolesterol ketimbang gangguan sosial dan emosional. Oleh karena itu, Dr Jauhar membiasakan untuk mendengarkan keluhan dan cerita pasien apabila ada hal yang mengganggu mereka untuk lebih memahami mereka.

Ia sendiri juga mencoba yoga dan meditasi untuk mengurangi stres. Lalu berolahraga tiap hari, meluangkan waktu lebih banyak daripada anak-anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa memang kondisi seperti sindrom Takotsubo bisa terjadi apabila seseorang terganggu emosinya, seperti ditinggal oleh yang terkasih.

"Kini aku berpikir untuk hidup lebih sehat dan lebih rileks. Aku juga lebih dekat dengan pasienku dan ketakutan mereka akan jantung mereka sendiri," tandas Dr Jauhar.

(frp/up)