Senin, 05 Nov 2018 18:13 WIB

Siap-siap Penjual Obat Online Masuk Radar Pengawasan BPOM

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Maraknya perdagangan obat ilegal lewat online membuat BPOM harus memperluas radar pengawasannya. (Foto: Annissa Widya Davita/detikHealth) Maraknya perdagangan obat ilegal lewat online membuat BPOM harus memperluas radar pengawasannya. (Foto: Annissa Widya Davita/detikHealth)
Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini tengah menyiapkan Peraturan Kepala BPOM (Perka BPOM) mengenai perdagangan secara online. Ini dilakukan guna memastikan obat-obatan yang beredar secara online tetap legal dan terjamin mutu serta khasiatnya.

"Kemarin kita FGD (focus grous discussion) finalisasi pengawasan obat daring dengan mengundang Kemenkes, Asosiasi E-commerce Indonesia, dari farmasi, dan lainnya. Pada intinya dari Perka kita akan finalkan tahun ini," kata Inspektur Utama Badan POM, Dra Reri Indriani, Apt, MSi, saat ditemui di kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat.



Pada intinya, ada tiga hal yang harus diperhatikan yakni sarana produksi dan distribusi obat tentu saja harus memiliki ijin, misalnya apotik dan toko obat. Kedua, harus ada tenaga ahli, dalam hal ini tenaga kefarmasian yang bertanggung jawab.

"Selain itu, obat harus ada ijin edarnya, kalau tidak ada ijin edarnya sudah pasti tidak boleh, ilegal. Kalau sudah ada ijin edarnya, tidak boleh kadaluarsa, kemasan tidak boleh rusak," ungkap Reri.

Sistem pelayanannya pun mendapatkan perhatian serius misalnya obat keras hanya diperbolehkan di apotik dan hanya dengan resep dokter.

Ke depannya, diharapkan Pengawas BPOM memiliki akses terhadap aplikasi e-commerce sehingga bisa melakukan tracking pada tiap transaksi. Hal ini pun masih dalam terus diusahakan.

"Dalam penyusunan, kita melakukan diskusi dengan E-commerce. Mereka sampai saat ini positif (sangat kooperatif)," jelas Reri.

(ask/fds)
News Feed