Tidak diketahui pasti apakah interaksi ini merupakan sebab atau efek dari suasana hati yang buruk. Dikutip dari Livescience, temuan ini menunjukkan bahwa di area itulah perasaan sedih sebenarnya terjadi.
"Bagi banyak pasien, sangat penting untuk tahu bahwa ketika mereka merasa depresi, itu adalah karena sesuatu yang bisa diukur dan konkret di otak mereka," kata Dr Vikaas Sohal, pakar kesehatan jiwa dari University of California yang melakukan penelitian tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitiannya, Dr Sohal menggunakan teknik yang disebut intracranial electroencephalography (EEG). Dengan teknik tersebut, ia menanamkan elektroda di otak untuk memantau aktivitas elektronik yang terjadi.
Berbagai penelitian sebelumnya dilakukan dengan fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging), yang memantau perubahan aliran darah. Teknik tersebut dinilat tidak bisa mengukur aktivitas otak yang terjadi dalam skala waktu sangat cepat.











































