Minggu, 18 Nov 2018 13:34 WIB

Cara Menyimpan Makanan Agar Bebas dari Bakteri

Prima Fauzi - detikHealth
Foto: Shutterstock Foto: Shutterstock
Jakarta - Makanan yang kita makan rentan terhadap penyebaran bakteri. Untuk itu, perlu cara penyimpanan yang tepat agar tidak menjadi tempat tinggal bakteri yang bisa menganggu kesehatan. Makanan yang terkontaminasi bakteri biasanya bisa menyebabkan diare dan gangguan pencernaan lainnya.

Chef Stefu Santoso membagikan caranya dalam paparan Food Safety di acara Smart and Clean Kitchen Management yang diadakan di kampus Indonesia International Institute for Life-Sciences (i3L), di Jakarta Timur, Kamis (15/11/2018).

Menurutnya, agar makanan terhindar dari bakteri hal yang utama harus diperhatikan adalah kebersihan dari orangnya sendiri. Kemudian perlu diperhatikan juga soal waktu serta suhu penyimpanannya. Suhu yang aman untuk menyimpan makanan adalah di bawah 5 derajat celcius atau di atas 65 derajat celcius.

"Personal hygiene, time, temperature dan danger zone. Suhu dan waktu di mana kita bisa menyimpan makanan atau memasak di suhu yang di bawah lima atau di atas 65 derajat celcius. Kalau di antara 5 sampai 65 derajat celcius maksimum 4 jam," ungkapnya.


Ia melanjutkan makanan yang kita konsumsi juga menjadi makanan bagi bakteri. Dengan suhu dan kelembapan yang mendukung, bakteri bisa berkembang biak.

"Makanan itu sendiri sudah menjadi makanan bagi bakteria. Makanan yang kita makan adalah makanan bagi bakteria. Kemudian ditambah suhu yang nyaman, dia butuh oksigen, dia butuh kelembapan, dia butuh waktu, dia butuh makana yang kita makan juga. Itu sebenarnya yang paling nyaman bagi bakteria," sambungnya.

Sementara dalam menjaga kebersihan alat masak dan dapur, ia menyarankan agar setiap orang harus memahami batasan dalam penggunaan dan penyimpanan bahan kimia dari cleaning supplies.

"Pemakaian chemical harus tepat dan dipakai sesuai saran supplier atau company yang memproduksi chemical tersebut. Kemudian yang paling penting adalah penyimpanan yang paling banyak kasus adalah di chemical dalam botol air mineral. Karena kebanyakan warna putih, bisa terkonsumsi oleh orang," ujar Stefu.

Acara Smart and Clean Kitchen Management merupakan kerja sama antara i3L dengan i2C (Indonesia Institute of Culinary) untuk memberikan edukasi soal kemanan pangan bagi pebisnis kuliner.


"Acara ini sebenarnya kita ingin membagikan pengalaman-pengalaman dari chef dan i3L ini untuk peserta peserta yang bisa saja dari pemilik restoran, kafe, UMKM, dan catering. Tadi yang disampaikan chef soal mengolah makanan, diharapkan makanan yang disajikan bisa menjadi lebih higienis dan berkualitas," ungkap perwakilan i2C, Irawati Setiady.

Dosen Studi Program Food Technology i3L, Gabriela Sugianto M.Sc, mengatakan selama ini banyak peserta yang antusias dengan tema food safety. Untuk itu pihaknya sudah tiga kali menggelar acara dengan tema yang sama.

"Ini kerja sama keenam dengan i2C untuk menggelar workshop. Fokusnya bukan hanya di food safety tapi juga ada di restopreneur dan clean eating. Food safety ini yang ketiga diadakan karena antusiasnya banyak dari business owner," ungkapnya. (idr/up)
News Feed