Selasa, 20 Nov 2018 07:41 WIB

Nasofaringitis Akut Jadi Penyakit Terbanyak Diidap Warga Gunungkidul

Pradito Rida Pertana - detikHealth
Ilustrasi nasofaring akut. Foto: iStock Ilustrasi nasofaring akut. Foto: iStock
Gunungkidul - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul menyebut pada 2018, penyakit yang paling banyak diidap warga hingga November adalah nasofaring akut (common cold). Tahun lalu hipertensi esensial berada di peringkat pertama.

"Paling banyak itu kena Nasofaringitis akut dengan 2.4384 penderita di Gunungkidul," kata Sekretaris Dinkes Kabupaten Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka saat ditemui di ruangannya, Senin (19/11/2018).

Menurutnya, trend penyakit hingga bulan November ini berbeda dengan tahun 2017, di mana nasofaringitis akut menempati peringkat kedua.

"Untuk tahun lalu nomor satunya adalah (penyakit) hipertensi dan sekarang berganti nasofaringitis," ucapnya.

Menurutnya, nasofaringitis akut menempati peringkat pertama karena saat ini masih masuk dalam peralihan musim. Dijelaskannya, bahwa penyakit tersebut memang dapat menular, namun masih dalam batasan wajar, karena penyakit nasofaringitis akut bukanlah penyakit yang berbahaya.

"Penyebabnya nasofaringitis akut lebih karena pengaruh cuaca saat ini saja, kan kadang hujan dan kadang panas," ucapnya.


Ditambahkan Priyanta, hipertensi esensial menempati peringkat kedua dengan 2.3510 penderita, disusul sakit kepala atau pusing 9.539 penderita, infeksi pernapasan akut 7.759 orang penderita dan dispepsia 7.067 penderita.

"Hipertensi memang selalu masuk peringkat atas, mungkin karena gaya hidup sehingga warga kurang menjaga pola makannya," katanya.

Sedangkan peringkat enam hingga 10 ditempati myalgia. Diungkapkan Priyanta, myalgia adalah suatu keadaan di mana badan terasa pegal-pegal atau biasa disebut dengan nyeri otot. Menurutnya ada dua jenis myalgia, yang mana satunya disebabkan oleh infeksi virus.

Ada pun myalgia yang menyerang warga Gunungkidul adalah Myalgia hand, myalgia pelvic and thigh, Myalgia lower leg, dan Myalgia ankle and foot dengan masing-masing penderita berjumlah 5.923 orang.

"Yang jelas, untuk menanggulanginya kami menggiatkan Germas (Gerakan Masyarakat Sehat). Memang tidak bisa langsung diterapkan, karena kita perlu stakeholder yang lain untuk mewujudkannya," pungkasnya.

(Pradito Rida Pertana/up)
News Feed