Minggu, 25 Nov 2018 19:10 WIB

Tolak Iklan Rokok, Walikota Bogor Klaim Pendapatan Naik Rp 100 M Pertahun

Kireina Suci Cahyani - detikHealth
Aksi taekwondoin Bogor dalam kampanye antirokok di Taman Sempur (Foto: Kirei/detikHealth) Aksi taekwondoin Bogor dalam kampanye antirokok di Taman Sempur (Foto: Kirei/detikHealth)
Bogor - Walikota Bogor Bima Arya menegaskan komitmen untuk menjadikan kotanya menjadi salah satu kota yang melarang display ritel penjualan rokok. Salah satu upaya yang dilakukannya ialah dengan terus mensosialisakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di berbagai kawasan.

Setelah melakukan pengendalian dan menolak secara tegas industri rokok di kota ini, apakah pendapatan daerah kota ini menjadi anjlok akibat menolak berbagai variasi iklan dan sponsor dari industri rokok?

"Jangan takut untuk melarang iklan rokok akan berdampak menghilangkan pendapatan asli daerah. Dalam pengalaman kota Bogor justru sejak melarang ikan rokok, pendapatan asli daerah kota Bogor naik minimal 100 miliar per tahun," ujar Bima Arya, saat ditemui detikHealth baru-baru ini di Taman Ekspresi, Sempur, Bogor.



Bima menuturkan bahwa satu hilang yang lainnya akan datang karena saat ia menerapkan kebijakan tersebut banyak produk-produk kesehatan, lifestyle, perbankan yang tertarik kepada kota hujan ini. Jadi tidak perlu takut dan khawatir pendapatan asli daerah akan anjlok saat konsisten menolak industri rokok.

"Memang tidak mudah untuk menerapkan kebijakan ini. Namun saya sangat berterima kasih kepada seluruh lapiran masyarakat yang turut membantu. Tak lupa juga kepada komunitas-komunitas yang selalu mendukung kebijakan ini, saya sangat berterima kasih karena komunitas ini kadang juga suka lebih galak dari kita," tutup Bima Arya.

(up/up)
News Feed