Rabu, 28 Nov 2018 13:35 WIB

Indonesia 'Sabuk Talasemia', 15 Persen Penduduknya adalah Pembawa Sifat

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Penyakit talasemia diwariskan secara genetik (Foto: iStock) Penyakit talasemia diwariskan secara genetik (Foto: iStock)
Jakarta - Menurut data RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), sampai dengan bulan Oktober 2016 terdapat 9.131 pasien talasemia mayor di Indonesia. Talasemia kini menempati urutan ke-5 penyakit paling boros dana BPJS Kesehatan, dengan beban biaya sebesar 1,8 triliun rupiah.

Talasemia merupakan penyakit keturunan kelainan sel darah merah yang membuatnya cepat rusak. Penyakit keturunan yang berarti orang tua menjadi carrier atau pembawa sifat talasemia tersebut.

Menurut penjelasan dr Pustika Amalia, staf Divisi Hematologi Onkologi Anak RSCM, pembawa sifat di Indonesia berkisar antara 5-15 per 100 penduduk. Pembawa sifat ini, lanjutnya, terbanyak berada di Aceh dan Palembang dan beberapa kota di pesisir Sumatera.

Indonesia sendiri memang termasuk dalam 'thalassemia belt' atau 'sabuk talasemia'. Istilah ini digunakan untuk negara-negara yang memang termasuk berisiko tinggi dalam penyakit kelainan sel darah merah tersebut.



"Di Indonesia prevalensinya kita ambil 5 persen saja, setahun itu bisa ada 2.500 bayi dengan talasemia lahir. Sementara untuk ngurusin satu anak aja biayanya bisa sampai 400 juta per pasien. Nah kalo 9.000 mau berapa uang negara habis?" katanya saat diwawancara usai acara South East Asian Thalassemia di Gedung Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (28/11/2018).

Hingga kini belum ada pengobatan atau penanganan yang tepat untuk talasemia. Transplantasi sumsum tulang bisa membantu, namun biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Sehingga seumur hidup pasien talasemia akan terikat dengan transfusi darah dan pengobatan terus-menerus.

Oleh karena itu, pencegahan bisa dilakukan secara dini melalui skrining, yang sebaiknya dilakukan sebelum pernikahan atau sebelum memiliki keturunan. Karena pembawa sifat talasemia sama sekali tidak menunjukkan gejala dan dapat beraktivitas layaknya orang sehat.

"Kalau untuk skrining rata rata biayanya 400 ribu per orang, dengan jumlah tadi kita bisa membiayai 100 skrining. Walaupun hasilnya memang nggak langsung seperti membalikkan tangan, tapi nanti bisa dirasakan 10 tahun kemudian angka kelahiran talasemianya ditekan menjadi 0 seperti Siprus atau Iran," tutup dr Lia, sapaannya.


Indonesia 'Sabuk Talasemia', 15 Persen Penduduknya adalah Pembawa Sifat
(frp/up)
News Feed