Selasa, 04 Des 2018 15:57 WIB

Berbaur dengan Masyarakat, Cara Rumah Cemara Runtuhkan Stigma HIV AIDS

Rosmha Widiyani - detikHealth
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2018. Foto: Reuters Peringatan Hari AIDS Sedunia 2018. Foto: Reuters
Topik Hangat Hari AIDS Sedunia 2018
Jakarta - Zaman boleh berganti, namun stigma hampir selalu membersamai Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA). Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) masih kerap dianggap penyakit yang mudah menular, meski fakta menyatakan penyakit ini sulit menginfeksi orang lain.

Pematahan stigma inilah yang coba dilakukan komunitas Rumah Cemara sejak didirikan tahun 2003. Direktur Rumah Cemara Aditia Taslim menyatakan, pihaknya memilih penghapusan stigma dengan inklusif atau berbaur sejak dini dengan masyarakat.

"Kita sejak awal tidak pernah pindah dari Gegerkalong (alamat Rumah Cemara). Masyarakat sudah tahu siapa kita karena Rumah Cemara memang tidak pernah menutup diri. Kita selalu terbuka tiap kali ada acara terhadap berbagai komunitas dan warga sekitar. Warga yang sudah akrab bahkan tidak segan minta air kalau alirannya macet," kata Adit pada detikHealth, Selasa (4/12/2018).

Adit sendiri adalah ODHA yang mengidap AIDS sejak 2003. Vonis jatuh saat usianya 18 tahun akibat menggunakan narkoba suntik. Terapi antiretroviral (ARV) dijalankan pada 2005 setelah medapat dukungan keluarga dan orang terdekat. Namun, status ODHA tak menyebabkan Adit menutup diri pada lingkungannya.


Menurut Adit, inklusif lebih efektif untuk melakukan sosialisasi terkait HIV-AIDS. Inklusif memungkinkan masyarakat melihat sedekat mungkin kehidupan seorang ODHA. Masyarakat bisa memastikan kebenaran atas stigma yang didengar, setelah melihat sendiri fakta seputar ODHA. Inklusif juga menekan risiko terjadinya penolakan dari masyarakat sekitar terhadap ODHA.

Adit menilai penolakan terhadap populasi kunci atau terdampak HIV-AIDS semakin ngeri. Penolakan tak lagi berasal dari pemerintah, namun langsung dari masyarakat setempat yang berujung tindakan fisik. Tindakan tak jarang memasuki ranah pribadi yang menimbulkan rasa tidak nyaman.

Salah satu contohnya adalah yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sebuah organisasi masyarakat (ormas) menggerebek sebuah rumah yang diduga ditinggali sekelompok waria. Penggerebekan yang direkam dalam video tersebut memperlihatkan anggota ormas memaksa waria berjongkok dan diberi nasihat.


"Kalau digerebek begini, yang ada populasi kunci dan terdampak makin nggak mau tes. Akibatnya mereka nggak dapat pengobatan dan virusnya tidak bisa ditekan. Indonesia akhirnya punya rapot buruk soal penanganan dan penekanan infeksi HIV AIDS," kata Adit.

Peristiwa yang sempat viral pada Mei 2018 tersebut, menegaskan pentingnya berbaur dengan masyarakat. Sambil terus berbaur, populasi kunci dan terdampak jangan ragu melakukan tes dan terapi ARV. Terapi ARV hingga saat ini tercatat sebagai yang paling efektif menekan perbanyakan HIV dalam tubuh. Kepatuhan dan keterbukaan memungkinkan ODHA bisa hidup dan diterima lingkungan sekitar. (Rosmha Widiyani/wdw)
Topik Hangat Hari AIDS Sedunia 2018
News Feed