Rabu, 12 Des 2018 18:00 WIB

Mengenal Disorientasi, Penyebab Jatuhnya Pesawat Saat Pilot Hilang Arah

Widiya Wiyanti - detikHealth
Disorientasi membuat seseorang kehilangan arah (Foto: iStock)
Jakarta - Penyebab pesawat jatuh bisa dari beberapa faktor, faktor teknik atau faktor kesalahan penerbang (pilot). Pada kesalahan faktor penerbang atau human error, penyebab paling besar adalah disorientasi.

Disorientasi atau disorientasi spasial biasa disebut, adalah kebingungan saat menentukan arah saat mengemudikan pesawat. Gangguan ini biasa dikaitkan dengan suatu ilusi atau tipuan. Pilot merasakan hal-hal yang bukan sebenarnya.

"Disorientasi itu penyebab utamanya yaitu gangguan sistem keseimbangan tubuh di telinga bagian dalam, itu membuat orang jadi tertipu karena di dalam situ ada cairan kanalis semisirkular. Itu bergerak posisinya lalu kita seolah-olah lagi ada di posisi tertentu," ujar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan Indonesia (PERDOSPI), Dr dr Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP kepada detikHealth saat ditemui di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra), Rabu (12/12/2018).



"Kalau ke kiri ngerasa belok ke kiri. Perasaan belok ke kiri, padahal jalannya nggak ke kiri," imbuhnya.

Wawan mengatakan bahwa disorientasi ini tidak ada penyebabnya. Pilot yang memiliki jam terbang tinggi sekalipun bisa mengalami disorientasi ini berkali-kali. Maka dari itu, pilot diharuskan untuk mengikuti instrumen yang ada, bukan mengikuti pendapat sendiri.

"Jadi dia pedoman yang harus dipegang itu ya monitor, instrumen. Nggak bisa mengandalkan visual, karena visual bisa menipu," tegasnya.

Untuk mengurangi disorientasi, pilot disarankan untuk melatih kemampuan dirinya melalui simulasi dengan alat Advance Orientation Training. Dengan begitu, pilot-pilot akan lebih memercayai instrumen yang tersedia dibanding dengan pemikirannya sendiri yang terbukti di beberapa kasus menyebabkan jatuhnya pesawat.

"Kalau dari human factor ya jumlahnya di atas 50 persen, kalau nggak salah 60 persenan. Yang kita tahu, Adam Air di Makassar, kemudian Lion Air di Denpasar," tutup Wawan.

(wdw/up)