Jumat, 14 Des 2018 09:11 WIB

Pengalaman Menegangkan Hilang Arah Saat 'Menerbangkan' Heli di Tengah Gurun

Widiya Wiyanti - detikHealth
Disorientasi bisa terjadi pada pilot senior sekalipun (Foto: iStock) Disorientasi bisa terjadi pada pilot senior sekalipun (Foto: iStock)
Jakarta - Untuk melatih disorientasi seorang penerbang atau pilot, para penerbang melakukan simulasi dengan menggunakan alat Advance Orientation Training (AOT). Simulasi ini dilakukan guna meminimalisir terjadinya kecelakaan pesawat yang disebabkan oleh disorientasi spasial.

Baru-baru ini, saya mendapat kesempatan untuk mencoba simulasi tersebut. Alat yang dibuat di Austria ini hanya ada satu di Indonesia, yaitu di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa (Lakespra).

Alat AOT ini dibuat seperti ruangan kokpit atau flight deck. Yang membuat berbeda, alat ini bisa berputar hingga 360 derajat. Saya berkesempatan mengikuti simulasi menerbangkan helikopter.



Didampingi oleh pilot helikopter yang sudah berpengalaman selama 18 tahun, Fauzi, saya duduk di kursi co-pilot. Dalam ruangan simulasi, terlihat ada banyak instrumen dan juga layar yang menampilkan kondisi di luar helikopter.

Seolah-olah saya dibawa terbang dengan helikopter melewati gurun yang cukup berdebu. Awalnya, hanya terbang seperti biasa dan pilot diharuskan untuk mendaratkan helikopter di helipada di tengah gurun. Kemudian helikopter seolah-olah diterbangkan lagi dengan kondisi angin yang kencang dan berdebu sehingga helikopter itu berputar-putar tidak terkendali.

Dengan kondisi yang tidak terkendali, pilot diharuskan untuk mendaratkannya namun tidak mengacu pada inderanya. Karena pada saat inilah indera pilot dapat menipu pilot itu sendiri atau yang disebut disorientasi. Rasa terguncang pun bisa saya rasakan hingga merasa sedikit pusing.
Jadi batas kemampuan manusia baru kelihatan di sini, bisa ketahuan di sini.Capt Ditha Murtiadi - Penerbang

"Lebih susah ini (daripada helikopter asli). Pokoknya kita harus tenang dan mendaratkan helikopter dengan instrumen," kata Fauzi.



Capt Ditha MurtiadiCapt Ditha Murtiadi Foto: detikHealth


Sama halnya dengan yang dirasakan pilot pesawat sipil, Capt Ditha Murtiadi. Meskipun sudah memiliki jam terbang sekitar 15 ribu, menurut Ditha yang baru pertama kali menggunakan simulasi ini, lebih sulit dibandingkan dengan mengendarai pesawat asli.

"Kita dites, dimatiin instrumen semua, jadi kayak nge-hank. Terus kita disuruh jalanin manual. Ketika dinyalain, pesawat udah miring, jadi feel kita apa ya, kalau di umum tuh spasial disorientasi," jelasnya setelah berlatih.

"Posisi kita nos down, turun naik itu terasa sekali. Ketahuan jadinya, oh posisi badan kita begini nih, jadi kita nggak boleh percaya sama badan kita," imbuh Capt Ditha.

Namun Capt Ditha tidak memercayai tubuhnya, ia mendaratkan pesawat tetap mengacu pada instrumen yang tersedia. Pada saat itulah, ia mengetahui batas kemampuannya.

"Jadi batas kemampuan manusia baru kelihatan di sini, bisa ketahuan di sini," ungkapnya.

Suasana kokpit untuk simulasi AOT.Suasana kokpit untuk simulasi AOT. Foto: Agung Pambudhy/detikcom




Simak video 'Kapten Vincent: Jangan Takut Naik Pesawat!':

[Gambas:Video 20detik]

(wdw/up)
News Feed