Kamis, 20 Des 2018 18:25 WIB

Pait! Pait! Pengalaman Terapi Sengatan Lebah

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Pengalaman terapi sengatan lebah. Foto: Aisyah/detikHealth Pengalaman terapi sengatan lebah. Foto: Aisyah/detikHealth
Jakarta -
"Pait! Pait! Pait!"

Kebanyakan orang yang takut disengat lebah pasti akan berteriak seperti itu ketika melihat hewan bersayap tersebut terbang di sekitarannya. Tapi hal ini berbeda dari yang nampak di tempat 'Bekam, Totok Darah, dan Sengat Lebah' yang ada di komplek Wiladatika 8, Cibubur, Jakarta Timur.

Tim detikHealth justru sengaja mampir ke sana untuk merasakan terapi dengan sengatan lebah. Tentunya lebah yang digunakan bukan lebah sembarang lebah, lebah yang dipilih merupakan lebah pekerja jenis Apis Mellifera, yang berasal dari Australia. Lebah tersebut kemudian diternakkan di Jawa Tengah.

Saat sampai di sana, kami ditanyakan mengenai keluhan yang dirasakan. Lalu, ditanyakan pula apakan kami sudah makan apa belum. Karena belum makan dan hari beranjak siang, kami diminta untuk makan terlebih dahulu sebelum menjalankan terapi.

Satu jam kemudian, setelah perut terisi dan merogoh kocek Rp 80 ribu untuk biaya terapi, kami diminta untuk menunggu beberapa menit.

"Saya pernah terapi sengat lebah. Pertama kali saya coba terapi lebah, saya meriang malamnya. Tapi besoknya pegal-pegalnya ya hilang," ujar salah seorang Bapak yang ikut menanti giliran untuk diterapi. Hmm bikin penasaran sekaligus deg-degan untuk menjajal terapi yang satu ini.

Selang berapa menit, kami diminta masuk ke dalam ruangan oleh salah satu terapis bernama Siti yang kurang lebih sudah setengah tahun bekerja.

"Dioles minyak zaitun dulu ya," ujarnya

Sebelum disengat lebah, terlebih dahulu disemprotkan minyak zaitun.Sebelum disengat lebah, terlebih dahulu disemprotkan minyak zaitun. Foto: Aisyah/detikHealth



Cus! Dengan perlahan Siti menancapkan pantat lebah ke area leher dan pundak yang terasa kaku. Lebah tersebut dibiarkan selama beberapa detik sebelum akhirnya diangkat. Ia pun segera mengambil sengat yang menempel di kulit dengan pinset yang sudah ia siapkan. Tangannya kemudian menepuk-nepuk sekitaran lokasi sengatan.

"Ditepuk-tepuk biar racunnya menyebar. Racunnya melancarkan peradaran darah dan merangsang saraf," katanya.

Menurut selembaran yang diterima detikHealth, racun yang dihasilkan bernama apitoxin yang diklaim bisa menurunkan asam urat, kolesterol, dan membantu penyakit saraf seperti saraf kejepit. Siti menjelaskan untuk pertemuan awal, biasanya hanya disengat oleh 3-5 lebah saja. Namun untuk pertemuan selanjutnya bisa disesuaikan dengan kemampuan tubuh.

Selesai menjalani terapi, Siti menjelaskan beberapa 'pantangan' yang harus dijalani.

"Air susu sama kelapa nggak boleh, takut racunnya netral. Kalau malam takutnya demam, minum air putih yang banyak," sarannya.


Jika ditanya apa rasanya disengat lebah, bisa dideskripsikan dengan rasa sakit, perih, dan panas. Sampai beberapa jam usai terapi di area leher, leher kami masih merah seperti gigitan nyamuk. Bila disentuh, rasa nyeri juga masih terasa.

Adakah salah satu dari kalian sudah pernah mencoba terapi sengat lebah atau justru tertarik mencobanya? Tuliskan tanggapanmu di kolom komentar. (ask/up)
News Feed