Selasa, 25 Des 2018 20:22 WIB

Jepang dan Sistem Peringatan Dini Tsunami

Rosmha Widiyani - detikHealth
Kecamatan Sumur, Pandeglang yang porak poranda usai tsunami. Foto: Rifkianto Nugroho Kecamatan Sumur, Pandeglang yang porak poranda usai tsunami. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Jepang telah membuktikan pentingnya sistem peringatan dini tsunami, untuk mitigasi dan keselamatan warga. Saat tsunami Tohoku pada 2011, early warning system memberi peringatan satu menit sebelum gempa dan tsunami menghancurkan kota. Meski begitu, Jepang masih harus kehilangan ribuan warga yang sebagian belum diketahui nasibnya.

Tsunami di Banten dan Lampung pada Minggu (23/12/2018) mengingatkan kembali pentingnya peringatan dini tsunami. Early warning system ini tidak hanya berdasarkan getaran bumi, tapi juga erupsi dan longsoran gunung di laut. Bila Jepang harus kehilangan ribuan warga dengan peringatan dini yang bekerja baik, maka Indonesia berisiko kehilangan lebih banyak akibat ketiadaan sistem.


"Sistem peringatan dini menjadi hal penting dalam mitigasi tsunami di Selat Sunda. Pemerintah telah menugaskan lembaga terkait untuk membangun sistem yang lebih handal," kata Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar (IGD) Badan Informasi Geospasial (BIG) Mohamad Arief Syafii pada detikHealth, Selasa (25/12/2018).

Selain sistem peringatan dini, Arief juga menyinggung pentingnya edukasi potensi bencana pada masyarakat. Edukasi memungkinkan warga bisa mengetahui tanda sebelum terjadi bencana.

Menurut Arief, edukasi sangat penting karena Indonesia tidak pernah aman dari bencana. Dengan memahami potensinya, masyarakat bisa bersiap secara mandiri atau kolektif untuk menghadapi bencana setiap saat.




Simak juga video 'BNPB: Gunung Anak Krakatau Masih Pertumbuhan':

[Gambas:Video 20detik]

(ask/ask)
News Feed