Kamis, 27 Des 2018 08:37 WIB

Dokter Paru Ingatkan Risiko Pneumonia pada Korban Tsunami

Rosmha Widiyani - detikHealth
Warga mengungsi jauh dari bibir pantai. Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom Warga mengungsi jauh dari bibir pantai. Foto: Samsudhuha Wildansyah/detikcom
Jakarta - Korban tenggelam yang ditemukan selamat dalam tsunami Banten-Lampung berisiko terkena pneumonia aspirasi air laut. Penyakit ini berbeda dengan pneumonia biasa meski punya gejala nyaris sama. Pneumonia air laut diawali nyeri dada, sesak napas, dan ada riwayat tenggelam.

"Pneumonia biasa diakibatkan infeksi kuman melalui udara saat pasien batuk atau bersin. Sedangkan pneumonia aspirasi disebabkan adanya benda asing yang masuk ke dalam jaringan paru. Dalam kasus pneumonia aspirasi air laut maka benda asing adalah air laut yang berisiko merusak jaringan paru dan saluran napas," kata dokter ahli paru dr M Fahmi Alatas dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan pada detikHealth, Rabu (26/12/2018).



Risiko pneumonia bisa ditekan terjadi jika korban segera mengeluarkan air yang masuk ke saluran pernapasan dengan batuk. Namun hal ini terjadi jika korban tersedak air laut dalam jumlah terbatas. Jika jumlahnya terlalu banyak, misal dalam kasus korban tenggelam, sekadar batuk tidak bisa membersihkan air laut yang masuk saluran pernapasan. Risiko pneumonia aspirasi air laut terjadi juga pada korban tsunami Aceh tahun 2004 dan Tohoku, Jepang pada 2011.

Menurut Fahmi, pasien pneumonia aspirasi air laut sebaiknya menjalani bronkoskopi untuk membersihkan saluran pernapasan (bronchial washing atau bronchial toilette). Alat dibilas dengan cairan steril berulang kali untuk menjamin kebersihan saluran napas. Bronkoskopi juga diterapkan untuk mengambil sampel mikroorganisme yang mungkin masuk bersamaan dengan air laut. Pasien sebaiknya juga mengonsumsi antibiotik sesuai resep.

Selain air laut, pneumonia aspirasi bisa terjadi pada pasien yang tersedak muntahnya sendiri. Namun menurut Fahmi, risiko air laut lebih berat karena sifatnya yang berbeda dengan cairan tubuh. Artinya risiko kerusakan paru dan saluran napas yang ditanggung tubuh lebih besar. Dengan besarnya risiko yang ditanggung, Fahmi menyarankan tenaga kesehatan yang menangani korban bencana lekas tanggap bila ada pasien dengan riwayat tenggelam. Pasien bisa langsung dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas lebih baik untuk penanganan lanjut.




Tonton juga video 'Kondisi Korban Tsunami di Pandeglang Masih Trauma':

[Gambas:Video 20detik]

(up/up)