Kamis, 27 Des 2018 10:00 WIB

Kesehatan Jiwa

Mahasiswa Vs Skripsi, Cerita Tiada Akhir

Rosmha Widiyani - detikHealth
Stres saat mengerjakan skripsi bisa mengganggu kesehatan jiwa (Foto: iStock) Stres saat mengerjakan skripsi bisa mengganggu kesehatan jiwa (Foto: iStock)
Jakarta - Sebagai tugas akhir, skripsi sarat beban dan harapan dari mahasiswa serta lingkungan sekitar. Sebagian mahasiswa memilih segera menghadapinya, namun yang lain memilih menunda. Sebagian segera selesai namun tak jarang yang harus berputar-putar.

Beratnya tekanan untuk menyelesaikan skripsi dan lulus sempat dirasakan alumni sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yang namanya sebut saja Aruna. Mahasiwa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) angkatan 2004 ini bahkan sempat frustasi hingga terpikir melakukan hal-hal buruk kepada dosennya.

"Gue udah ngulang tiga kali dan terus dapet nilai E. Gue sendiri nggak lulus karena kebanyakan absen. Buat yang terakhir, gw seriusin banget supaya bisa sidang dan lulus," kata Aruna pada detikHealth, Rabu (26/12/2018).

Aruna mulai menulis tugas akhirnya di semester 12 dan selesai saat menginjak semester 13. Sesuai aturan perkuliahan di Indonesia, mahasiswa yang belum juga lulus di semester 14 dikenakan pemutusan studi atau DO.

Dengan perasaan was-was dan kalut, Aruna akhirnya mengurangi bolos dan mengerjakan seluruh tugas di mata kuliah tersebut. Keseriusan Aruna berbuah nilai C yang sesuai standar kelulusan mata kuliah. Aruna akhirnya bisa sidang dan memperoleh gelar sarjana pada 2011.

"Buat yang masih jadi mahasiswa, kuliah yang bener. Asal optimis pasti bisa sidang dan lulus," kata Aruna yang kini bekerja di sebuah media swasta.

Banyak tipe mahasiswa dengan berbagai strategi menyikapi stres saat mengerjakan skripsi. Kamu termasuk yang mana?Ada banyak tipe mahasiswa dengan berbagai strategi menyikapi stres saat mengerjakan skripsi. Kamu termasuk yang mana? Foto: iStock




Senada dengan Aruna, Icha seorang alumnus sebuah PTN juga merasakan beratnya saat menjalani kuliah dan skripsi. Namun Icha yang menempuh pendidikan ilmu komunikasi ini memilih serius sejak masuk perkuliahan. Hasilnya, Icha bisa menyelesaikan studi hanya selama 3,5 tahun.

"Skripsi emang agak berat karena ngejar target harus lulus 3,5 tahun. Sambil nyusun skripsi masih ada kuliah, Ujian Akhir Semester (UAS), dan bimbingan. Kita juga harus nyiapin seandainya usulan dan bahan ditolak," kata Icha pada detikHealth.

Dari sekian banyak tantangan, Icha menyebut menemukan motivasi sebagai hal yang paling sulit. Tanpa motivasi, Icha yang cenderung malas gerak (mager) makin sulit memenuhi target penyelesaian penulisan skripsi. Menyikapi mager, Icha selalu mengingat janjinya kepada diri sendiri dan orangtua.

"Sebagai mahasiswa, skripsi harus dihadapi sekarang atau nanti. Artinya, skripsi adalah kewajiban gue bagi diri sendiri dan orangtua yang harus selesai," kata Icha yang kini bekerja di perusahaan swasta.

Tekanan mental saat mengerjakan skripsi bisa memicu guncangan kejiwaan.Tekanan mental saat mengerjakan skripsi bisa memicu guncangan kejiwaan. Foto: iStock




Diberitakan sebelumnya, psikolog klinis dari Personal Growth Veronica Adesla mengatakan, skripsi menang bisa menjadi beban bagi mahasiswa. Apalagi bila yang menjalaninya merasa tidak yakin, pesimistis, dan labil emosi. Beban diperkuat dengan kewajiban untuk segera lulus di semester akhir dan harapan lingkungan sekitar.

Dua kasus dugaan bunuh diri yang terjadi di Universitas Padjajaran (Unpad) belakangan ini juga diwarnai spekulasi soal keterkaitan dengan masalah skripsi. Keduanya sama-sama mahasiswa semester 13 dan belum menyelesaikan skripsi.


Ada yang stres berlarut-larut, tapi tak sedikit yang mampu mengatasinya dan bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu.Ada yang stres berlarut-larut, tapi tak sedikit yang mampu mengatasinya dan bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu. Foto: iStock


Namun seperti dikutip dari detiknews, Kepala Program Studi Perikanan Unpad Asep Handaka menyebut tidak ada masalah dalam bimbingan skripsi dalam salah satu kasus dugaan bunuh diri yang menimpa mahasiswanya.

"Dari data akademik, korban belum mengajukan judul penelitian dan belum ada dosen pembimbing yang ditunjuk. Sehingga tidak ada masalah dalam pembimbingan skripsi. Apalagi kami mengenal dosen wali nya selama ini adalah dosen yang sangat baik dan dekat dengan mahasiswa," jelasnya.

Nah bagaimana dengan kamu, pernahkah mengalami pergulatan psikologis semacam ini saat berjuang menyelesaikan skripsi? Ceritakan di kolom komentar ya.

(up/up)